Warga Muslim Indonesia di Matsuyama Doa Bersama untuk Korban Tsunami Palu dan Donggala

0
37

Aulia Yahya Apt
Perwakilan Healthcare Professionals for Sharia (HELP-S) wilayah Jepang
Pengurus Matsuyama Islamic Cultural Center (MICC)
Melaporkan dari Matsuyama Jepang

TRiBUN-TIMUR.COM-Kabar duka itu begitu cepat kami ketahui, bahkan sebelum siaran televisi nasional menjadikannya sebagi liputan khusus bencana.

Kekuatan informasi media sosial menjadikan warga perantauan dengan mudah mengakses berita up to date di tanah air.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 SR yang mengguncang Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, termasuk Mamuju Sulawesi Barat Jumat (28/9/2018), pukul 18.02 WITA berujung Tsunami dan akhirnya memakan korban jiwa yang diperkirakan ratusan bahkan bisa mencapai angka ribuan.

Sabtu (28/9/2018), sejumlah muslim Matsuyama yang kebetulan secara rutin menyelenggarakan salat fardu Maghrib dan Isya berjamaah di mushallah MICC, dan bertepatan dengan jadwal pengajian rutin pekanan, berkesempatan untuk menggelar do’a bersama untuk para korban jiwa, dan doa keselamatan untuk keluarga yang ditinggalkan.

“Semoga mereka yang meninggal dunia semua mendapatkan tempa terbaik di sisi Allah, dan para korban selamat, keluarga yang ditinggalkan dapat segera mendapat pertolongan dan diberikan keikhlasan serta ketabahan dalam menghadapi cobaan” ucap Ruslan La Ane, dosen FKM Unhas, Mahasiswa Program Doktoral di Ehime University saat memimpin doa bersama.

Sebagai warga Indonesia yang jauh dari tanah air, kami cukup prihatin dengan makin massifnya bencana alam yang menimpa sejumlah wilayah Indonesia. Belum kering luka dan duka di Lombok, kini luka dan duka baru menganga di Palu, Donggala dan Mamuju.

Sebagai bahan renungan bersama, bencana-bencana alam sebenarnya dapat diminimalisir dampaknya dengan dengan ikhtiar, bukan sekadar dengan tawakkal. Semestinya terdapat perhatian yang besar dari pemerintah agar tersedia fasilitas umum yang mampu melindungi rakyat dari berbagai bencana.

Sejumlah alat dan metode peringatan dini dipastikan berfungsi dengan baik, bangunan tahan bencana sudah mesti dipersiapkan termasuk membangun bunker cadangan logistik. Yang tak boleh dilupakan adalah melatih masyarakat untuk selalu tanggap darurat.

Masyarakat tahu bagaimana harus mengevakuasi diri dengan cepat, bagaimana menyiapkan barang-barang yang vital selama evakuasi, bagaimana mengurus jenazah yang bertebaran, dan bagaimana merehabilitasi diri pasca kedaruratan.

Sehingga baik pemerintah maupun masyarakat siaga menghadapi bencana, tahu apa yang harus dilakukan baik dalam keadaan normal ataupun genting, sigap dalam penanganan saat bencana hingga pascabencana. Semoga keselamatan meliputi seluruh negeri.

LEAVE A REPLY