HELP-S Roadshow Kandangan “FENOMENA LGBT DAN SOLUSI KOMPREHENSIF”

0
38

Dalam rangka Roadshow 20 Kota, di kota Kandangan HELP-S (Healthcare Professionals for Sharia) melaksanakan seminar publik bertajuk “Fenomena LGBT dan Solusi Komprehensif”. Acara ini dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Maret 2018 di Pendopo Bupati Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Mengawali berjalannya acara, ditampilkan video profil HELP-S sebagai perhimpunan tenaga profesional kesehatan muslim yang berusaha mempersatukan visi para tenaga kesehatan untuk turut peduli masalah umat dan menyadarkan mereka pentingnya usaha penegakan syariah. Kemudian ditayangkan pula video berjudul “Ada Apa dengan LGBT” yang memaparkan fakta-fakta kerusakan yang diakibatkan fenomena LGBT mulai dari meningkatnya angka penyakit menular, terjadinya berbagai kriminalitas hingga rusaknya rumah tangga.

dr. Riyan Maulana, Sp.An, ahli anestesi dari RSUD Damanhuri Barabai tampil sebagai moderator yang memandu jalannya diskusi. Narasumber pertama acara adalah dr. Sofyan N Saragih, Sp.KJ, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupatan Hulu Sungai Selatan sekaligus ahli kedokteran jiwa RSUD Brigj. H. Hassan Basry Kandangan. Di awal presentasinya yang berjudul “LGBT dalam Perspektif Kedokteran Jiwa” beliau menayangkan video mengenai perjalanan hidup Sam Brodie, seorang transgender yang bisa berubah kembali sesuai kodratnya sebagai lelaki setelah menjadi mualaf. “Apakah perilaku LGBT bisa diubah? Sebenarnya dari video ini kita sudah dapat menyimpulkannya,” ucap dr.Sofyan. Beliau memaparkan sejarah LGBT di Indonesia, penyebab LGBT yang meliputi problem biologis, psikososial (pola asuh), lingkungan, dan trauma masa lalu. Menurut beliau, untuk bisa berubah, seorang pelaku LGBT harus memiliki motivasi yang kuat yang didukung oleh lingkungannya. “Dan yang tidak kalah penting sebagaimana yang dialami Sam Brodie harus ada pendekatan spiritual, dimana ia dapat berubah setelah memeluk agama Islam,” ungkap alumni Universitas Airlangga Surabaya ini.

Materi kedua mengenai Tinjauan Syariat Islam Mengenai LGBT dibawakan oleh Majelis Ulama Indonesia Kabupaten HSS yang diwakili Ustadz Muhammad Khairani dan Guru Abdul Wahid. Ustadz Khairani memaparkan presentasi mengenai definisi LGBT berdasarkan kitab-kitab fiqh, keharaman perilaku LGBT beserta sanksi bagi para pelakunya. Sementara Guru Abdul Wahid menekankan bahwa sanksi yang keras terhadap pelaku LGBT berakibat tidak akan ada yang berani melakukan perbuatan haram ini sehingga kehidupan sosial tidak menjadi rusak. “Sebagai seorang muslim haruslah meyakini bahwa aturan Islam apapun itu merupakan rahmatan lil ‘alamin,” tegas beliau.

Narasumber ketiga, dr. Muhammad Amin, M.Ked.Klin., Sp.MK memaparkan materi bertemakan “Progres Resistensi Bakteri Penyebab Penyakit Menular Seksual”. Di sini beliau menjelaskan bahwasanya angka kejadian penyakit menular seksual relatif meningkat setiap tahunnya baik di Indonesia maupun di dunia. Masalahnya semakin banyak kuman penyebab penyakit menular seperti gonore (kencing nanah) yang kebal dengan obat-obat antibiotik. Untuk mencegah timbulnya kuman yang kebal antibiotik yakni dengan menggunakan antibiotik secara rasional sesuai petunjuk dokter dan tentunya mencegah penularan termasuk menjauhi perilaku berisiko seperti LGBT. Namun masih banyak hambatan seperti ketidakpatuhan pasien dalam mengonsumsi antibiotik, transmisi masih terjadi akibat penyimpangan perilaku seperti LGBT tumbuh subur, pengobatan tidak tuntas, dan pendanaan yang masih kurang.

“Sebenarnya Islam sudah punya solusi komprehensif untuk itu semua,” kata dr.Amin. Dalam Islam, sejarah sudah membuktikan adanya sistem kesehatan yang mumpuni dan dapat diakses oleh semua warga negara tanpa diskriminasi. Sistem pendidikan juga harus berlandaskan Islam untuk mencetak warga negara yang bertanggung jawab. Tentunya hal tersebut ditunjang ekonomi yang mensejahterakan serta sistem hukum yang tegas. Maka sistem syariah perlu ditopang oleh adanya institusi yang setia dengan syariah. “Hal tersebut untuk saat ini tentu masih merupakan cita-cita,” pungkas pegawai RSUD Ngawi ini.

Seminar publik ini dihadiri sekitar 100 peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dan ulama. Di samping itu tentunya dihadiri tenaga kesehatan seperti perawat, bidan, ahli kesehatan masyarakat, dokter umum, dan dokter spesialis. Tampak berhadir pula Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten HSS, dr. Hj. Siti Zainab dan tamu undangan lainnya yakni Wakil Ketua MUI, perwakilan Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan Dinas Kominfo HSS.

LEAVE A REPLY