Wabah HIV-AIDS Mengancam Generasi Milenial !

0
146

By : Ns. Reza Indra Wiguna, M.Kep

Di pagi hari sabtu yang bertepatan dengan tanggal 1 Desember 2018, jika kita memperhatikan perkembangan media sosial kemungkinan sebagaian dari kita pasti akan menjumpai status yang terdapat di beranda Whatsapp atau di Instagram mengenai peringatan hari AIDS sedunia atau World AIDS Day yang diperingati setiap tahunnya pada tanggal 1 Desember. Nah, peringatan HIV-AIDS tahun ini merupakan yang ke-30 dengan tema “kenali statusmu”. Di era revolusi industry 4.0 ini arus update informasi di dunia maya begitu deras dan tak terbendung, terlebih yang mengakses informasi tersebut mayoritas adalah kalangan generasi muda saat ini atau yang dikenal dengan generasi milenial.
Terkadang jika kita membayangkan dua fenomena di atas, yakni mengenai kasus HIV secara Global ataupun secara Nasional sungguh sangat memperihatinkan, data kasus HIV-AIDS tersebut tak kunjung menurun bahkan dalam angka statistik berkembang naik dari tahun ke tahun. Kemudian fenomena yang sangat menyedihkannya adalah kasus tersebut menyerang mayoritas kaum milenial negeri ini.
Jika kita ingin meluangkan waktu sejenak untuk melihat data HIV di Dunia, saat ini sudah mencapai jumlah 36,9 juta manusia yang hidup dengan terinfeksi virus HIV (WHO, 2017) jumlah angka penderita tersebut hampir sama jika ditotal dengan penduduk dari tiga negara seperti; Malaysia, Singapura dan Brunei. Nah, bagaimana dengan perkembangan kasus HIV di Indonesia? menurut laporan Kemenkes tahun 2018 jumlah penderita HIV yang dilaporkan semenjak tahun 2005 hingga 2017 mencapai jumlah 280.623 jiwa, yang sangat memprihatinkan adalah kasus HIV terbanyak menginfeksi kalangan generasi milenial, seperti pada kelompok umur 15-24 tahun tingkat kasus 20,7%, sedangkan kelompok umur 25-49 tahun kasusnya mencapai 69,2% (Ditjen P2P Kemenkes RI, 2017). Sungguh ironi apa yang menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda di negeri kita!
Di sisi lain permasalahan HIV-AIDS yang terjadi dimanapun termasuk di Indonesia merupakan sebuah fenomena seperti halnya Gunung ES, yang hanya tampak puncaknya saja, bayangkan berapa jumlah kasus HIV yang tidak terdeteksi atau yang tidak dilaporkan. Masalah yang menimpa kaum milenial di negeri ini tidak berhenti disini. Hal inilah dampak budaya pergaulan bebas yang menjerumuskan mereka kedalam lingkaran masalah, sebut saja napza dan maraknya perilaku seks bebas yang berujung pada tingginya tingkat aborsi di Indonesia, hal tersebut menyebabkan angka penderita HIV/AIDS terus kian meningkat drastis. Akibatnya sangat memperihatinkan data aborsi 2,6 juta janin/tahun di Indonesia, padahal jika dibandingkan dari data korban perang dunia I + perang dunia II tidak melebihi tingkat aborsi bayi tiap tahun di negeri ini.
Gambaran data seperti ini mengungkapkan kepada kita, setiap hari ada ribuan nyawa bayi yang melayang dan berkata untuk alasan apa saya dibunuh? dalam kegelapan rahim ibu mereka berkata atas dosa apa saya dibunuh andaikata mereka bisa berucap, bukankah ini pembunuhan terkejam sepanjang sejarah umat manusia, pembunuhan atas nama nyawa belia yang tidak berdosa dengan alasan budaya liberal semata namun ini seperti dilegalkan.
Munkin ada sebagaian dari kita yang menanyakan fenomena masalah yang menimpa generasi milenial saat ini, kenapa hal ini bisa terjadi? tidak lain penyebabnya adalah liberalisasi kehidupan yang sudah berjalan secara luas. Jika kita melihat kembali perkembangan dunia saat ini, sangat tidak terlepas dari sistem budaya yang bersifat liberal dengan gaya hidup Hedonisme yang mengajarkan manusia untuk mengejar kenikmatan materi dan melakukan apa saja yang penting bisa mendatangkan kenikmatan. Paham ini tercermin dalam slogan fun, food dan fashion. Dengan budaya tersebut generasi milenial negeri ini didorong untuk mengejar kenikmatan dengan jalan bersenang-senang, termasuk di dalamnya dengan melakukan pergaulan dan perilaku seks bebas. Sungguh sebuah ironi!
Selayaknya untuk semua pihak harus memperhatikan permasalahan yang menimpa generasi milenial di negeri ini, terlebih dalam momen hari HIV-AIDS sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember. Budaya asing yang merusak generasi penerus bangsa ini harus dijauhkan dari kehidupan para pemuda. Dan sudah saatnya generasi milenial peka terhadap masalah-masalah yang mengancam kehidupan mereka kedepannya.
Sebagai gantinya, sekaligus untuk memperbaiki dan menyelamatkan generasi milenial negeri ini serta mengembalikannya menjadi generasi penerus ummat, sudah saatnya kaum milenial kembali hijrah pada tatanan kehidupan yang didasarkan pada keimanan mereka dalam dalam kehidupan yang islami. Sebab, hanya Islamlah dengan serangkaian sistem kehidupanya yang merupakan satu-satunya solusi bagi seluruh problematika dan persoalan hidup manusia.

LEAVE A REPLY