Mengurai Benang Kusut Masalah Kesehatan

0
479

Oleh: dr. Fauzan Muttaqien (Sekjend HELP-S)

Bila kita merunut masalah-masalah di dunia kesehatan, maka kita akan menemui beberapa sumber masalah yakni: Sistem pendidikan kesehatan bermodel kapitalistik, sistem produksi obat dan alat kesehatan yang tergantung asing, sistem distribusi obat yang beraroma bisnis, sistem penyelenggaraan kesehatan yang menekankan aspek kuratif daripada preventif, serta kebijakan kesehatan yang materialistik.

Sistem pendidikan kesehatan berperan besar mencetak pelaku-pelaku di bidang kesehatan. Sangat mahalnya biaya sekolah kesehatan yang mencapai ratusan juta bahkan bisa sampai milyaran jelas berkonsekuensi menghasilkan pelaku kesehatan yang berjiwa dagang. Logika mereka, kami telah banyak keluar uang untuk menjadi dokter, maka wajar bila kami mencari uang balik modal setelah lulus nanti. Ini juga diperparah dengan rumit dan berbelit-belitnya untuk sekolah di kedokteran ditambah dengan waktunya yang relatif lebih lama dibanding dengan profesi yang lain. Hal ini menjadikan dokter lulusannya akan semakin semangat menuntut balik modal. Biaya yang tinggi ini, belum diimbangi dengan kualitas yang baik. Oleh karena itu pembenahan besar-besaran dalam pendidikan kesehatan harus betul-betul menjadi perhatian. Model pendidikan kesehatan harus dijauhkan dari sekularisme dan kapitalisme. Pendidikan kesehatan harus digratiskan namun dengan mutu yang tinggi. Sehingga output tenaga kesehatan yang dihasilkan adalah dokter dan perawat yang berkualitas, tidak dibayangi profit oriented, betul-betul bekerja mengobati dengan ikhlas mengabdi.

Masalah selanjutnya adalah produksi obat yang menggunakan sistem paten. Penggunaan sistem paten tidak lebih dari upaya kaum kapitalis untuk memproteksi diri mereka. Efek dari sistem paten ini juga adalah berlipat gandanya harga produksi obat. Oleh karena itu harus ada keberanian melawan para raksasa industri farmasi yang menggurita dengan membangun tandingannya. Kita harus berani mengembangkan sendiri obat-obatan tanpa tergantung asing. Pemerintah harus menggelontorkan dana yang betul-betul besar untuk pembangunan riset bidang kesehatan. Sehingga kita bisa mandiri, merdeka dari penjajahan obat-obatan dan produk kesehatan luar negeri yang mencekik dunia ketiga. Pengelolaan farmasi harus diambil alih negara, sehingga tidak ada lagi kolusi farmasi dengan dokter yang membuat harga obat melambung tinggi. Dokter pun tidak perlu khawatir kehilangan sumber pendapatan, toh negara menggaji tinggi praktisi medis.

Masalah selanjutnya yang juga tidak kalah penting adalah model penyelenggaraan kesehatan yang masih menitikberatkan aspek kuratif (pengobatan) dibandingkan sistem preventif (pencegahan). Bagaimanapun biaya berobat jelas sangat mahal dibandingkan biaya pencegahan. Oleh karena itu aspek preventif harus dikedepankan dengan memperbaiki sanitasi lingkungan, pengadaan sarana dan pembiasaan pola hidup bersih, keberanian menghapuskan secara permanen sumber-sumber penyakit yang selama ini dipelihara seperti pabrik-pabrik rokok, industri minuman keras, narkoba, dan tempat-tempat pelacuran. Selain itu yang tak kalah penting adalah pengadaan pangan yang bergizi dan bermutu tinggi seraya menghapus sarana dan kebiasaan makan yang jelek dari masyarakat seperti kebiasaan makanan junk food dan lain sebagainya.

Terakhir, kebijakan pelayanan kesehatan yang kapitalistik harus diganti. Kebijakan ini tidak cukup hanya dengan sekedar program BPJS yang tetap saja modelnya adalah model asuransi profit kapitalistik. Namun, pemerintah harus berani betul-betul menggratiskan seluruh biaya kesehatan bagi rakyat tanpa terkecuali. Dengan pelayanan yang berkualitas tidak piih kasih. Sehingga kesehatan bukan lagi dianggap sebuah produk jualan. Tidak ada lagi ceritanya orang miskin tidak bisa berobat atau bisa berobat tapi mendapatkan pelayanan dan obat ala kadarnya.

Tentunya model kebijakan ini tidak dapat diambil kecuali dengan mensinergikan dengan bidang-bidang yang lain seperti ekonomi dan politik. Tak dipungkiri, untuk kesehatan yang bermutu tinggi harus ditopang dengan kekuatan ekonomi yang tinggi pula. Kebijakan untuk menggratiskan pendidikan kesehatan dan biaya pelayanan kesehatan yang gratis dapat ditempuh asalkan negara memiliki kekayaan yang cukup, artinya ekonomi negara ini juga di sisi lain harus betul-betul dibenahi. Perlawanan terhadap kedigdayaan industri kapitalis Barat mesti didukung dengan politik yang kuat. Riset-riset yang hebat, pembangunan rumah sakit dan sarana-sarana kesehatan yang berkualitas harus didukung dengan kebijakan ekonomi dan politik yang hebat.

Pertanyaannya, mungkinkah benang kusut masalah kesehatan ini diselesaikan oleh sistem kapitalisme dan turunannya?[]

LEAVE A REPLY