Khilafah Pasca Pandemi

0
492

sumber gambar : https://www.wallpaperflare.com/city-man-sitting-back-looking-view-high-male-person-wallpaper-arwuj

Oleh : H. Fauzan Muttaqien

Futurologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masa depan, mempelajari segala prognosa ilmiah tentang situasi dan kondisi masa mendatang di segala aspek, berdasarkan perkembangan situasi masa kini. Dalam pengertian modern, Futurologi ini merupakan usaha mengeksplorasi fakta-fakta yang telah terjadi dan juga perkembangan masa kini dengan pandangan ilmiah yang ketat. Disiplin ilmu futurologi dipopulerkan pada periode 1970-an oleh saintis bernama Alvin Toffler. Berbicara tentang ilmu ini menarik, terutama ketika pandemi. Mengingat berdasarkan pengalaman sejarah, Beberapa pandemi tercatat berperan dalam perubahan tatanan global.

Dunia Yang Senantiasa Berubah

Tatanan dunia tidak pernah bersifat statis. Dia senantiasa dinamis. Apabila hari ini banyak orang silau dengan adidaya Amerika Serikat dan menganggapnya sebagai babak akhir dari sejarah dunia, maka mestinya dia berkaca pada sejarah, bahwa babak adidaya Amerika Serikat umurnya masih terlampau muda. Bahkan keadidayaan tunggalnya saja baru berusia 30 tahunan.

Pada abad 18 hingga 19 dunia didominasi oleh Daulah Utsmaniyah, Prusia, Rusia, Austria, Inggris, dan Perancis. Negara-negara inilah pada masa itu yang mengendalikan berbagai urusan dunia, mengancam perdamaian, dan memutuskan perang. Kemudian lahir AS lalu ia mengisolasi diri dari negara-negara tersebut dan menjadikannya hanya berada di dunianya sendiri. Austria kemudian tidak dianggap lagi sebagai negara adidaya sehingga negara adidaya di dunia ada lima: Rusia, Jerman, Inggris, Perancis, dan Daulah Utsmaniyah. Lalu Daulah Utsmaniyah runtuh sehingga negara-negara adidaya yang menguasai dunia adalah Rusia, Jerman, Perancis, dan Inggris. Kemudian setelah Perang Dunia I, Rusia mengisolasi diri dengan berdirinya Negara komunisme di dalamnya dan berkuasanya partai komunis dalam pemerintahan. Jerman juga jatuh setelah kekalahannya dalam Perang Dunia I. Jadi, negara adidaya lalu menjadi hanya dua, yaitu Inggris dan Perancis. Inggris-lah yang mengendalikan dunia secara keseluruhan, kecuali AS. Sementara Perancis tetap ambisius di belakang Inggris.

Pada awal dekade ke-4, yaitu pada tahun 1933, partai Nazi memegang kekuasaan di Jerman dan berusaha untuk meningkatkan martabat bangsa Jerman hingga kembali menjadi negara adidaya. Beberapa saat sebelum itu, Mussolini juga meraih kekuasaan di Italia dan berupaya untuk meningkatkan martabat Italia hingga kembali menjadi negara adidaya. Muncul pula “bintang” Jepang dan pengaruhnya meluas setelah menjadi negara industri sehingga Jepang dianggap negara adidaya.

Sementara itu Uni Soviet semakin kuat dan mempunyai eksistensi internasional dan kembali menjadi negara adidaya. Walhasil Negara adidaya ada enam: Uni Soviet, Jerman, Inggris, Perancis, Italia, dan Jepang. AS masih tetap berada dalam isolasinya.
Setelah Perang Dunia II, Jerman, Italia, dan Jepang dikalahkan dan lemahlah kekuatan tiga negara ini. Di samping itu keluarlah AS dari isolasinya dan segera turut campur dalam urusan-urusan dunia. Maka, negara adidaya ada empat, yaitu Uni Soviet, Inggris, Perancis, dan AS. Kemudian setelah kesepakatan Uni Soviet dan AS pada tahun 1961, Inggris dan Perancis tidak dianggap lagi sebagai dua negara adidaya. Dengan demikian, negara adidaya menjadi dua: Uni Soviet dan AS. Dengan kesepakatan keduanya, AS dan Uni Soviet menjadi satu kekuatan dan dunia menjadi satu kekuatan besar yang terbentuk dari dua negara tersebut. Tidak ada negara adidaya yang menguasai dunia selain kedua negara tersebut hingga beberapa saat menjelang runtuhnya Uni Soviet.

Dengan naiknya Gorbachev sebagai pemimpin Uni Soviet tahun 1985, atau menjelang kemenangan Reagan untuk masa jabatan keduanya, Uni Soviet mulai mengalami kekalahan demi kekalahan dari AS. Dengan demikian, Uni Soviet menjadi sempoyongan menuju jalan kehancuran.

Uni Soviet tidak lagi dianggap sebagai Negara adidaya. Kemudian Uni Soviet mengalami disintegrasi dan Rusia mewarisi potensi dan kekuatan Uni Soviet sebagai negara adidaya. Hanya saja, Rusia menderita kebangkrutan politik, kehilangan identitas ideologis, di samping mengalami problem-problem internal seperti ekonomi dan politik akibat penerapan komunisme. Inilah yang menyebabkan pudarnya pengaruh Rusia terhadap politik internasional.

Dengan demikian, AS menjadi satu-satunya kekuatan adidaya di dunia hingga saat ini, yakni negara pertama yang mampu mengendalikan irama politik internasional tanpa ada pesaing atas kedudukannya ini.

Prediksi Tentang Perubahan Tatanan Dunia

Ada 2 futurolog yang saling bertentang pandangan tentang apa yang akan terjadi setelah era adidaya Amerika Serikat saat ini. Yang pertama adalah Francis Fukuyama. Dalam tesisnya yang berjudul The End of History and The Last Man, Fukuyama menyampaikan tujuan akhir dari segala gerak sejarah ialah demokrasi liberal. Pasca Perang Dingin, kapitalisme dan demokrasi liberal muncul sebagai pemenang tunggal atas ideologi-ideologi pesaingnya terutama monarki, komunisme dan fasisme. Kemenangan ideologis ini dimaknai sebagai berakhirnya sejarah. Menurutnya, sejarah telah dan akan berakhir dengan tercapainya masyarakat demokratis liberal di seluruh dunia. Akhir sejarah yang dimaksud di sini bukanlah berakhirnya peristiwa alias kiamat, melainkan akhir dari sejarah ideologi. Dengan kata lain, menurut Fukuyama, tidak ada lagi ideologi baru yang dapat menggantikan kedudukan demokrasi liberal dan kapitalisme. Ideologi tersebut menjadi puncak dan final ideologi yang pernah ada dalam sejarah.

Berbeda dengan Francis Fukuyama. Samuel P Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, meramalkan bahwa setelah komunisme runtuh pada 2001 akan terjadi benturan antara Barat dan Islam. Di masa depan, kata Huntington, konflik akan melibatkan kawasan non-Eropa dan mengambil bentuk benturan peradaban. Huntington menolak kepercayaan luas masyarakat Barat bahwa nilai-nilai dan sistem politik Barat bisa diterima dan dipraktekkan di manapun di dunia. Ini kepercayaan yang naïf. Huntington lalu mengidentifikasi suatu pergeseran utama dari kekuasaan ekonomi, militer, dan politik dari Barat ke peradaban-peradaban dunia yang lain. Pergeseran utama itu terjadi melalui munculnya dua “peradaban penantang”, yakni peradaban Cina dan Islam.

Belajar Dari 2 Pandemi Besar Dunia
Pandemi bukan hanya mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian, namun juga berperan dalam memutar roda tatanan peradaban global. Setidaknya 2 pandemi berikut bisa menjadi contoh.

1. Black Death dan Penaklukan Konstantinopel
Wabah Maut Hitam atau Black Death. Maut Hitam, juga disebut sebagai Pestilence atau Wabah Bubonic Besar, yakni salah satu pandemi yang paling menghancurkan dalam sejarah manusia. Pandemi ini mengakibatkan kematian diperkirakan 75 hingga 200 juta orang di Eurasia. Maut Hitam memuncak di Eropa dari tahun 1347 hingga 1351.

Wabah ini diyakini disebabkan oleh Bakteri Yersinia pestis, yang mengakibatkan beberapa bentuk serangan, septikemik (keracunan darah), pneumonia (radang paru-paru) dan paling umum dan mengerikan, bubonik (bengkak berpendarahan di kelenjar getah bening ketiak atau selangkangan). Disebut Maut Hitam karena ciri khas wabah itu adalah menghitam atau membirunya bagian-bagian tubuh yang terserang.

Black Death diperkirakan telah membunuh 30 hingga 60 persen dari populasi Eropa. Secara total, wabah itu mengurangi populasi dunia dari sekitar 475 juta menjadi 350-375 juta jiwa manusia pada abad ke-14.

Hampir seabad kena gelombang wabah, Byzantium dan kerajaan-kerajaan Kristen bawahannya jelas melemah. Pola yang terjadi adalah wabah menyerang, penduduk musnah. Akibatnya lahan pertanian tak tergarap dan terjadilah krisis pangan dan ekonomi.

Dari sisi militer, korban wabah tak hanya dari kalangan sipil tetapi juga tentara. Contohnya sejarah mencatat permintaan darurat pasukan khusus pemanah oleh Provveditore (Pengawas) Kota Corfu ke Senat Venesia tahun 1410. Kemungkinan karena banyak korban di antara barisan tentara di pulau itu. Hilangnya personel berkualifikasi militer khusus, seperti pemanah, jelas melemahkan kekuatan.

Korban dari kalangan sipil akibat wabah juga berpengaruh secara militer. personel yang tewas tak bisa dicarikan pengganti karena rakyat juga banyak tewas. Maka negara melemah termasuk militernya. Itulah yang terjadi di Konstantinopel pada tahun 1453, kekuatan Byzantium melemah oleh wabah, perpecahan internal dan saling mengabaikan di antara negara-negara Kristen. Kaisar Konstantin XI, emperor saat terakhir, sebelum penaklukan Konstantinopel menyerukan mobilisasi pasukan bantuan Kristen dari wilayah lain di Eropa. Nyatanya, tiada yang datang kecuali segelintir pasukan dari Genoa dan Spanyol. Sejarawan mencatat, itulah saat terrendah solidaritas dunia kristen. Dan, pada saat itulah pasukan Islam dengan pertolongan Allah SWT, di bawah Muhammad AlFatih akhirnya berhasil merebut ibukota dan mengubahnya menjadi wilayah Islam.

2. Flu Spanyol dan Berakhirnya Perang Dunia I

Di tahun 1918, sebuah pandemi influenza merebak di seluruh penjuru dunia, dimulai dari Benua Eropa, lalu menyebar ke Amerika, Asia, Afrika dan Australia. Praktis, hampir seluruh populasi dunia saat itu, terkena dampak wabah tersebut, baik terjangkit langsung, meninggal dunia atau terkena dampak sosial dan ekonomi akibat pandemi. Pandemi Influenza 1918 adalah suatu kondisi dimana virus influenza tipe A dengan subtipe H1N1 berhasil menyebar ke seluruh dunia.

Perkiraan konservatif menyatakan kemungkinan 20 sampai dengan 40 juta orang meninggal, bahkan ada juga yang memperkirakan 100 juta orang meninggal. Bahkan ada yang memperkirakan sepertiga populasi dunia terjangkit influenza. Daya bunuhnya tinggi, 1 diantara 20 orang yang terjangkit meninggal dunia, delapan kali lebih ganas dibandingkan wabah flu biasa.

Pandemi flu ini memiliki peran penting dalam perubahan tatanan dunia. Salah satunya adalah ‘perannya’ dalam Perjanjian Perdamaian Paris, yang berhasil menghentikan Perang Dunia I. Banyak anggota delegasi dari negara-negara yang terlibat perang terjangkit flu, bahkan beberapa diantaranya meninggal. Ketidakhadiran mereka dalam lobi dan negosiasi, membuat arah perjanjian damai berubah menjadi lebih lunak. Sebelumnya, para delegasi tersebut sangat sukar menerima poin-poin perjanjian yang akan menghentikan perang antara Jerman dan negara-negara Sekutu. Crosby mencatat dengan baik pengaruh-pengaruh tersebut dalam bab “Flu and The Paris Peace Conference”. Crosby berpendapat bahwa semua “malaise” and “fatigue” (kelemasan dan kelelahan) yang disebabkan oleh flu berpengaruh pada hasil keputusan perjanjian damai tersebut, yang berhasil melahirkan Liga Bangsa-Bangsa

Kapitalisme dan Kebangkrutan Pasca Pandemi COVID-19

Kantor berita Al-Jazeera (4/4/2020) mengutip pernyataan serigala politik Amerika dan mantan Menteri Luar Negeri, Henry Kissinger, dalam sebuah artikel di Wall Street Journal, bahwa pandemi Covid-19 akan mengubah sistem global selamanya. Kissinger menjelaskan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh pandemi ini mungkin bersifat sementara, tetapi kekacauan politik dan ekonomi yang disebabkannya dapat berlanjut selama beberapa generasi.

Kita menyaksikan, akibat pandemi ini terjadi krisis di 200 negara yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi global diprakirakan mengalami resesi di angka negatif. Negara-negara di dunia mayoritas mengalami resesi atau perlambatan ekonomi bahkan tidak sedikit berimbas pada krisis sosial dan politik. Termasuk Amerika Serikat (AS) sebagai negara yang memiliki sistem pertahanan ekonomi yang kuat dan mempunyai perangkat ekonomi yang sangat lengkap. Pandemi ini memperlihatkan ketidakmampuan imunitas ekonomi AS dalam mencegah dan mengantisipasi dampak terhadap ekonominya. Termasuk juga negara pesaingnya, dalam ekonomi dan perdagangan global, yaitu Cina.

IMF (2020) memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia sebesar minus 3%. Lembaga ini juga menyebutkan bahwa pandemi ini membuat biaya yang dikeluarkan masyarakat menjadi lebih tinggi. Termasuk pembiayaan ekonomi. Sebelum pandemi, akibat perang dagang saja sudah berkonstribusi menekan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 0,8% pada 2020 menjadi kisaran 3%. Setelah pandemi menjadi kisaran minus 3%. Artinya, konstribusi perang dagang dalam memperlambat pertumbuhan ekonomi sangat besar, ditambah dengan pandemi. Jauh lebih parah kedalaman pertumbuhan ekonomi global yang terkontraksi.

Secara tegas pandemi ini terus membuka kedok kebangkrutan model ekonomi negara-negara kapitalis global. Tidak sedikit para ekonom telah memperingatkan kemungkinan besar akan terjadi keruntuhan ekonomi Kapitalisme global. Salah satu pemicu paling tinggi adalah wabah pandemi tersebut.

Setidaknya, terdapat dua terminologi yang biasa digunakan ekonom untuk menggambarkan penurunan ekonomi global; atau setidaknya menggambarkan ekonomi hancur diujung kebangkrutan. Pertama: Indikator ‘resesi’ yang secara tradisional didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut atau enam bulan berturut-turut pertumbuhan ekonomi negatif. Kedua: Depresi besar (great depression) yang menggambarkan kemerosotan ekonomi berkepanjangan yang dihadapi oleh negara tersebut yang diukur dalam tahun.

Para ideolog sekular putus asa dengan cara menambal lapisan busuk sistem ini. Tujuannya agar orang-orang di dunia tidak menolak kapitalisme secara massal. Namun, tampaknya masyarakat telah menemukan kambing hitam atas kegagalan ini, yaitu pada sistem Kapitalisme dan rezim kapitalistik. Seiring dengan ancaman krisis keuangan global di tengah pandemi, demokrasi di barat dan timur berada pada goncangan kematian, dan bersiap mengambil napas terakhirnya.

Pasca Pandemi, Eranya Umat Islam Kembali?

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Apalagi jika Allah SWT telah menghendakinya. Sejarah telah mengajari kita bagaimana Allah Swt telah mempergilirkan kepemimpinan sebuah peradaban atas dunia. Bicara kemungkinan, perubahan tatanan dunia baru pasca pandemi COVID-19 akan mungkin saja terjadi.

Hal ini diperkuat oleh pendapat Ibnu Khaldun dalam kitab Mukaddimah tentang lima sebab runtuhnya sebuah peradaban, yaitu pertama, ketika terjadi ketidakadilan (kesenjangan antara kaya dan miskin), kedua merajalelanya penindasan kelompok kuat terhadap kelompok lemah (negara kuat menindas negara lemah dan negara lemah harus mengikutinya). Ketiga, runtuhnya moralitas pemimpin negara (korupsi, pidana, dll). Keempat, adanya pemimpin tertutup yang tidak mau dikritik, dan yang mengkritik akan dihukum. Kelima, terjadinya bencana besar (peperangan). Meski tak berwujud peperangan fisik, perlawanan terhadap COVID -19 bisa terkategori ini.

Lalu apa yang terjadi setelah pandemi kali ini? Mungkinkah setelah ini kembali terjadi ‘reset’ pada tatanan dunia? Dan setelah ini Umat Islam akan kembali tampil menjadi pemimpin peradaban dunia?

Beberapa analis menuturkan beberapa kemungkinan:
1. Penulis Rusia bernama Michael Ioreyev dalam buku yang berjudul “Rusia .. Kekaisaran ketiga,” memperediksi akan ada beberapa Negara Besar di dunia yang akan muncul pada tahun 2020. Saat itu,akan terdapat empat atau lima negara berperadaban, yaitu Rusia yang akan menguasai benua Eropa,Cina, Negara Timur Jauh, Negara Khilafah Islam dan Negara konfederasi Amerika yang akan menggabungkan Amerika Utara dan Amerika Selatan.

2. Dalam bukunya yang terbit di tahun 2008 berjudul “Kejatuhan dan Kebangkitan Negara Islam”, Profesor Noah Feldman di Harvard menyatakan bahwa kemunduran Syariah Islam di masa lalu akan diikuti dengan kebangkitan Syariah Islam, suatu proses yang berakhir pada terbentuknya Khilafah Islam pada abad ke-21

3. Penasihat Presiden AS Obama untuk keamanan dalam negeri, Mohamed Elibiary memperingatkan, dalam statusnya di situs jejaring sosial “Twitter” tentang tegaknya Khilafah Islam, dimana ia menegaskan bahwa satu-satunya pilihan bagi Amerika Serikat adalah menjalankan Containment Policy, yakni kebijakan untuk mencegah penyebarannya, seperti yang dilakukan pada Uni Eropa

4. Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada bulan November tahun 2002, saat dilakukan News Conference pada Pertemuan Tingkat Tinggi ke 10 antara Rusia-Uni Eropa (The 10th Russia-European Union Summit) di Brussels, menyatakan, “By the way, I would like you to note that the creation of a caliphate on the territory of the Russian Federation is only the first part of their plan. Actually, if you follow the developments in that sphere, you ought to know that the radicals have much more ambitious goals. They speak about creating a world caliphate.”

5. Tony Blair, saat menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris, pada pidato di depan Konferensi Partai Buruh, menyatakan, “Apa yang sedang kita lawan adalah ideologi setan…Mereka menuntut penghancuran Israel, penarikan mundur semua orang Barat dari negara-negara Islam, dengan mengabaikan kemauan rakyat dan pemerintah-nya, pendirian negara-negara semacam Taliban dan hukum syariah di dunia Arab dan berujung yang sama pada Kekhalifahan untuk semua negara-negara Muslim”

6. Dan mungkin yang paling fenomenal, meski tahunnya sudah meleset adalah laporan National Intelligence Council’s (NIC) pada Desember 2004 yang berjudul “Mapping the Global Future.” Dalam laporan ini, diprediksi empat skenario dunia tahun 2020, dimana salah satunya adalah A New Chaliphate yaitu berdirinya kembali khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat

Wallahu a’lam. Namun futurolog paling terpercaya yang lahir pada abad 6 M telah menyampaikan kabar sebagai berikut:
“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar).

Pandemi ini memang banyak membawa dampak negatif, mulai dari tingginya angka kesakitan dan kematian, krisis ekonomi, sosial dan politik. Namun, Insya Allah, kita sedang menantikan dampak paling indah dari pandemi COVID-19 ini. Yakni tegaknya kembali khilafah atas izin Allah.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil

LEAVE A REPLY