Injury Time: Selamatkan Umat dari Mutasi Covid D614G Penularan Lebih Tinggi – PART 1

0
112

Oleh Imanda Amalia, SKM, MPH
(Dosen, Founder @RumahSyariahInstitute)

Jumlah kasus virus corona masih menunjukkan peningkatan. Angka kasus Covid-19 di banyak negara masih terus mengalami kenaikan. Hingga Kamis (3/9/2020) pagi, melansir dari Worldometers, angka kasus positif virus corona mencapai angka 26.150.139 orang. Amerika Serikat menduduki urutan pertama dengan jumlah kasus 6.295.733 kasus, disusul Brazil: 3.997.865 kasus, India: 3.848.968 kasus, Rusia: 1.005.000 kasus, dan Peru: 657.129 kasus

Injuri Time Kasus Covid 19 di Indonesia dimulai sejak 25 Juni 2020 saat dicabutnya Maklumat Kapolri Nomor Mak/2/III/2020 tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (Covid-19) mengatur sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan. Pencabutan dilakukan menuju adaptasi terhadap tatanan kehidupan baru atau new normal. Akibatnya, persebaran virus corona makin marak terjadi. Jumlahnya pun juga semakin tinggi setiap harinya. Kasus positif virus corona (Covid-19) secara akumulatif di Indonesia per Kamis (3/9) mencapai 184.268 orang sejak kasus pertama diungkap pada 2 Maret lalu. Dari jumlah terkini tersebut ada 132.055 sembuh dan 7.750 meninggal. Jumlah akumulatif kasus positif mengalami pertambahan kasus positif hari ini merupakan rekor baru dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Pasien Covid-19 atau case fatality rate di Indonesia masih lebih tinggi dari rata-rata kematian global.

Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Nuning Nuraini, mengatakan bahwa Indonesia sampai sekarang masih menjalani gelombang pertama pandemi Covid-19. Para ilmuwan menghitung Angka Reproduksi dalam kurun waktu tertentu. Jika angka reproduksi lebih tinggi dari satu, maka jumlah kasus dapat meningkat secara signifikan seperti bola salju yang bergulir. Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Pandu Riono juga mengkritisi penanganan pemerintah yang tidak optimal dalam menangani perkembangan kasus yang tidak memiliki indikator dan acuan jelas untuk memonitor penekanan penyebaran, sehingga puncak pandemi tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi

Virus SARS-CoV2 bermutasi lebih cepat sejak new normal diberlakukan. Kelompok kerja Genetik Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada berhasil mengidentifikasi mutasi SARS-CoV2 di Yogyakarta dan Jawa tengah. Mutasi D614G pada SARS-CoV2 memiliki tingkat penularan sampai 10 kali lebih tinggi. Temuan ini disampaikan peneliti dari pokja genetik Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM pada Hari Rabu, 2 September 2020. Tim Pokja genetik FKKMK UGM berhasil mengidentifikasi ‘whole genome sequencing’ (WGS) empat isolat covid-19 dari Yogyakarta dan Jawa tengah. Tiga diantaranya mengandung mutasi virus yang disebut covid-19 D614G. Ketua Pokja genetik FKKMK UGM, dr Gunadi menyatakan selain infeksiusnya sepuluh kali, jumlah virus pada pasien yang mengandung virus lebih banyak. Perlu diperhatikan bahwa Infeksius juga lebih tinggi dan ‘virus load’ atau jumlah virusnya ternyata lebih banyak.

Mutasi D614G pada SARS-CoV2 berdaya infeksi sepuluh kali lebih tinggi, telah ditemukan di sejumlah kota besar di indonesia, yakni di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Jawa Tengah. Berdasarkan data, mutasi Covid-19 D614G telah tersebar hampir di seluruh pelosok dunia, yaitu 77,5 persen dari total 92.090 isolat mengandung mutasi D614G. Sedangkan di Indonesia sudah dilaporkan sebanyak 9 dari 24 isolat mengandung mutasi D614G. Sepertiganya terdeteksi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Implikasi Mutasi SARS-CoV2

Secara umum, virus dapat mengalami mutasi genetik yang sering karena beberapa faktor, seperti seleksi alam dan pergeseran genetik acak. Karena faktor-faktor ini dapat bekerja secara berurutan, seringkali sangat sulit untuk mengidentifikasi kapan mutasi virus menjadi lebih umum. Dalam kasus virus corona baru, mutasi D614G pada protein lonjakan virus terjadi pada tahap awal pandemi, dan bukti terbaru menunjukkan bahwa virus yang mengandung residu glisin di posisi 614 kini telah menjadi varian paling umum secara global.

Para ilmuwan mengidentifikasi faktor penyebab yang bertanggung jawab atas kemunculan cepat G614 yang mengandung virus corona, para ilmuwan juga telah memantau secara ekstensif semua data sekuensing genom virus corona yang tersedia secara global di database Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID).

Para ilmuwan telah menemukan bahwa mutasi G614G pada protein lonjakan virus adalah mutasi yang paling sering terjadi di banyak lokasi geografis. Sebagai virus pseudotipe, varian G614 memiliki titer infeksi yang jauh lebih tinggi daripada varian D614. Ini menunjukkan bahwa lonjakan mutasi D614G membuat virus korona baru lebih menular dan virus dapat ditularkan dengan lebih mudah dan cepat dari orang ke orang. Selain itu, para ilmuwan telah menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi varian G614 memiliki viral load yang lebih tinggi di saluran pernapasan bagian atas dibandingkan dengan mereka yang terinfeksi varian D614.

Efektifitas Vaksin

Pandemi ini memang membuat banyak lembaga penelitian berbagai negara berlomba menemukan vaksin Covid-19. Setidaknya, ada 5,7 miliar dosis vaksin yang dipesan banyak negara meski belum ditemukan. Sejumlah produsen vaksin bahkan telah menerima pembayaran. Ada lima vaksin yang telah memasuki uji klinis tahap ketiga, yakni tiga dari negara Barat, dua dari Cina.

Universitas Oxford bekerja sama dengan grup farmasi Astra Zeneca. Ditargetkan, vaksin tuntas pada September 2020. Perusahaan biotek AS, Moderna bersinergi dengan Institut Kesehatan Nasional AS (NIH) dengan target November 2020 vaksin jadi. Presiden AS Donald Trump merilis Operation Warp Speed dalam pengembangan, produksi, dan pendistribusian vaksin ke seluruh warga AS. Targetnya pada Januari 2021. Di Asia, Jepang sedang menyiapkan 490 juta dosis dari tiga pemasok, 250 juta dosis di antaranya dari Novavax, AS. Takeda, raksasa farmasi Jepang, bahkan telah membeli hak atas vaksin Novavax yang akan diproduksi secara lokal.

Pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian untuk mengimpor 50 juta dosis calon vaksin Covid-19 dari Sinovac, China. Perjanjian ini ditandatangani oleh Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN), Erick Thohir. Bio Farma akan menerima bulk atau konsentrat Ready to Fill (RTF) calon vaksin dari Sinovac ini yang diperkirakan mulai November 2020-Maret 2021.

Pakar Epidemiologi Dicky Budiman menyatakan adanya vaksin atau obat ini hanya salah satu strategi untuk mengatasi pandemi. Masih ada hal lain yang harus dilakukan, untuk benar-benar terhindar dari paparan virus. Contoh kasus epidemi ebola terbukti bahwa ditemukannya obat dan vaksin ebola ternyata tidak serta-merta menyelesaikan wabah penyakit Ebola.

Karena kemanjuran vaksin bergantung pada kemampuannya untuk mendorong tubuh menghasilkan antibodi yang melindungi dari infeksi di masa mendatang, kemungkinan besar orang akan memerlukan dua dosis vaksin virus corona dalam selang beberapa minggu agar efektif. Beberapa ahli menyarankan agar vaksinasi dilakukan secara teratur dan berulang.

Dr. Kelly Moore, seorang profesor kebijakan kesehatan di Vanderbilt University menyatakan program vaksinasi akibat Covid 19 adalah yang terbesar dan paling rumit dalam sejarah manusia, dan itu akan membutuhkan upaya, tingkat kecanggihan, yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dr. Ahmad Rusydan menyatakan dalam seminar Muslim Intelectual Circle, terkait bisnis vaksin meliputi perusahaan Amerika (Moderna, Pfizer and BioNTech), Inggris (Oxford AstraZeneca), China (Sinovac Biotech, Sinopharm, CanSino Biologics, Wuhan Institute of Biological Products) Australia (Murdoch Children’s Research Institute), Dan Korea (Genexine Dan Medytox). Risiko perusahaan vaksin meliputi: risiko finansial, risiko kematian, risiko kegagalan uji klinis (Pandemi sudah berakhir tanpa “sempat” dilakukan uji klinis, hasil uji klinis botherline proteksi terhadap infeksi dan atau gejala berat 50% (idealnya minimal 70%), risiko tidak laku (karena vaksin terlalu mahal). Negara maju memesan vaksin hingga akhir 2021 sebanyak 1 miliar dosis vaksin dari Oxford AstraZeneca: Eropa, Amerika, Inggris, Brazil. Inggris dengan dosis hingga 5 kali per orang. sedangkan 92 negara lain berebut sisa vaksin. Uji klinis vaksin Fase 3 (keamanan, efikasi, regulator) dengan pengujian > 1000 orang menjadi penentu efektivitas vaksin.

(bersambung ke PART 2)

Sumber :

Abdurrahman Al Maliki, As Siyasah Al Iqtishodiyah Al Mustsla

Al-Hassani, Salim (Ed., 2012): 1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization: Official Companion to the 1001 Inventions Exhibition. National Geographic, London.

Science Translational Medicine. 2020. Mutations in the coronavirus spike protein. blogs.sciencemag.org/…/mutations-in-the-coronavirus-spike-protein

Shiddiq Al Jawi dan Ahmad Rusydan. 2020. Makalah Muslim Intelectual Circle. Disampaikan pada Seminar Online Hari Kamis 03 September 2020.

Korber B. 2020. Tracking Changes in SARS-CoV-2 Spike: Evidence that D614G Increases Infectivity of the COVID-19 Virus. Cell. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0092867420308205

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200901154205-37-183638/terungkap-ada-mutasi-baru-lebih-menular-dari-covid-19-d614g

https://www.farmasetika.com/2020/08/18/mengenal-mutasi-virus-covid-19-d614g-10-kali-lebih-ganas-vaksin-tidak-efektif/amp/

https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/22/123500465/indonesia-impor-50-juta-calon-vaksin-corona-dari-china

https://www.tvonenews.com/channel/talk-show-tvone/21104-ugm-temukan-mutasi-corona-dr-gunadi-bukan-lebih-ganas-tapi-10-kali-lebih-infeksius-tvone

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY