Indonesia Zero Coronavirus SARS-Cov2 Kok Bisa?

0
675

Oleh: Ahmad Rusydan Utomo, PhD (Dept. Riset dan Pemberdayaan Umat, HELPS)

Meskipun saya bukan ahli virus, tetapi biologi virus ini memang menakjubkan bagi saya seorang peneliti genetik kanker. Bahkan selama ratusan tahun orang tidak percaya bahwa virus bisa menyebabkan kanker pada manusia. Hingga ditemukannya Human Papilloma Virus (HPV) oleh pemenang hadiah Nobel Dr zur Hausen, kini kita tahu HPV adalah penyebab utama kanker serviks, dan diikuti kanker lain seperti kanker dubur/anus, dan sebagian kanker leher kepala. Lebih jauh lagi, studi atau penelitian tentang mekanisme kerusakan genetik juga menggunakan protein virus untuk merekapitulasi proses transformasi sel normal menjadi kanker di laboratorium.

Di samping kanker, penyakit akibat infeksi virus juga bisa mematikan. Drama perjalanan hidup manusia dengan penyakit memang bisa mendebarkan. Wabah ‘Black Death” yang dianggap mematikan di abad pertengahan (abad ke 14 yaitu tahun 1347 hingga 1351) diperkirakan menewaskan 25 juta orang atau sepertiga populasi Eropa saat itu. Kota Siena, Italia yang sedang merenovasi Katedral nya pun terhenti akibat wabah yang kini sebagian ilmuwan menduga virus Anthrax sebagai penyebabnya (Ober dan Aloush 1982). Tidak jauh dari perbatasan Italia, adalah semenanjung Iberia yang saat itu bernama Andalusia (kini Spanyol) juga terkena dampak wabah Black Death. Kurang lebih di waktu yang sama, proyek pembangunan istana Alhambra di Granada juga sedang berlangsung.Foto: Katedral Siena yang tidak pernah selesai akibat wabah Black Death abad ke 14 Masehi

Andalusia, bagian dari Khilafah Abbasiyah, adalah salah satu bagian dari peradaban Islam yang mencapai jaman keemasan terutama di bidang Sains seperti kedokteran (contoh tokohnya adalah Ibn Zuhr/Avenzoar), filsafat (Ibn Rushd/Averroes), dan tentu ilmu hukum Islam (Ibn Hazm seorang ulama terkenal dari Madhzab Zahiri). Apa yang terjadi ketika wabah menyerang digambarkan oleh seorang ilmuwan muslim Andalusia (Islamic Spain) bernama Muhammad al Khatib. Sebagai muslim, al Khatib pun meyakini bahwa taqdir Allah adalah diluar kuasa hamba. Namun dibalik takdir itu ada Qadar, ada ‘rules of Allah’ yang bisa di observasi secara empiris bagaimana penyakit terjadi dan itu yang al Khatib tulis. Dalam kitabnya Muqni’at al-Sā’il ‘an al-Maraḍ al-Hā’il (Tanggapan meyakinkan terhadap pertanyaan tentang penyakit yang menakutkan), Ibn Khatib memaparkan:

“The existence of contagion is established by experience [and] by trustworthy reports on transmission by garments, vessels, earrings; by the spread of it by persons from one house, by infection of a healthy sea-port by an arrival from an infected land [and] by the immunity of isolated individuals.”
“Adanya penyakit yang menular dibuktikan berdasarkan pengalaman dan laporan yang bisa dipercaya. Baju, tempat minum, anting-anting penderita adalah media penularan penyakit di rumah-rumah, dan juga datangnya penumpang kapal dari wilayah yang telah terpapar wabah menularkan penyakit kepada warga kota pelabuhan yang awalnya sehat, dan tetap sehatnya warga yang terisolasi dari paparan penyakit” (Hopley R 2010)

Lebih lanjut lagi, Ibn Al Khatib juga mendeskripsikan bahwa manusia yang tidak pernah bertemu dengan penderita ternyata tidak pernah terkena penyakit sebagaimana yang telah dia perhatikan tidak adanya penyakit di penjara dimana para tawanan terisolir dari dunia luar yang sedang mengalami wabah. Perlu dipahami bahwa pemahaman tentang mekanisme penyakit di masa Ibn Khatib baru sebatas adanya ‘miasma’ (atau ‘udara yang buruk’), namun tidak bisa menjelaskan mengapa manusia yang berbagi udara yang sama tidak semuanya sakit dan meninggal. Maka transfer penyebab penyakit melalui kontak dengan barang yang dikenakan penderita (tempat minum, baju, anting-anting) adalah konsep penularan yang baru saat itu.

Observasi ini bukan sekedar hasil keingin-tahuan intelektual tetapi juga membantu untuk mengendalikan penyebaran penyakit minimal di wilayah Granada, sisa wilayah Andalusia selatan yang saat itu masih dikendalikan oleh penguasa muslim, sedangkan wilayah Andalusia utara sudah jatuh dikuasai pasukan Raja Philips dan Ratu Isabella saat itu. Menariknya, ketika wabah berakhir, Katedral Siena tidak pernah selesai direnovasi, sedangkan Istana Alhambra justru berhasil diselesaikan (Ober dan Aloush 1982).
Istana Alhambra Granada Spanyol yang pembangunannya sempat terhambat oleh wabah Black Death

COVID-19 Tidak ada di Indonesia?
Mekanisme penularan penyakit terutama wabah kekinian yaitu wabah yang diawali dari pasar binatang liar Huannan di kota Wuhan, Cina juga menunjukkan bahwa kontak dengan penderita adalah faktor risiko untuk turut tertular. Sejak pecahnya wabah coronavirus Wuhan di penghujung 2019, sudah lebih dari 1,000 korban terinfeksi virus meninggal dan 8,000 lainnya masih dalam kondisi kritis. Total 40,000 jiwa terinfeksi di 20an negara (Per 11 Februari 2020).

Kecuali Indonesia (per 12 Februari 2020)

Hampir semua negara ASEAN (Malaysia, Singapore, Thailand, Kamboja, Filipina dan Vietnam) kecuali Brunei dan Laos sudah melaporkan adanya warganya yang positf terinfeksi SARS-Cov2 (Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 dimana awalnya dinamai 2019-NCov) dan penyakit yang ditimbulkannya dinamai COVID19
Apa artinya Zero (Nol) kasus COVID19 di Indonesia?
Dilema hasil tes Zero

Dalam penelitian atau studi ilmiah, hasil penelitian atau percobaan eksperimen negatif (tidak terdeteksi apa yang kita cari) memang lebih sulit dipertahankan dibanding hasil penelitian yang positif (terdeteksi apa yang kita cari). Hanya saja, orang cenderung lebih mengapresiasi data positif ketimbang data negatif. Maka tidak heran, banyak sekali mahasiswa doktoral yang frustasi penelitiannya yang bertahun-tahun hanya menghasilkan data negatif alias tidak menemukan hal yang baru untuk layak mendapatkan gelar doktoral. Padahal sebetulnya data negatif bisa jadi sama pentingnya atau bahkan bisa jadi lebih penting ketimbang data positif, selama bisa dijelaskan dari perspektif yang unik misalnya.

Dari data negatif kita bisa belajar kasus pemalsuan data stemcell yang dilakukan oleh lab terkenal RIKEN di Jepang, dimana penelitian tersebut mengklaim bahwa pemberian asam pada sel bisa merubahnya menjadi stemcell. Teknik sederhana merubah pH media dimana sel tumbuh di lab tentu menggegerkan, karena sebelumnya upaya merubah sel menjadi stemcell membutuhkan kerumitan tingkat dewa. Nah, pemalsuan data ini terungkap ketika lab lain gagal mereproduksinya, mengulangnya.

Dalam Sains, konsep pengulangan eksperimen secara independen (oleh personel yang berbeda atau oleh lab yang berbeda dan menghasilkan data yang sama) adalah salah satu fondasi sains. Artinya, meskipun lab jepang menampilkan data positif (pemberian asam merubah sel menjadi stemcell), pengulangan protokol yang menghasilkan data negatif oleh banyak lab lain menjadi indikasi kuat adanya pemalsuan. Tapi ya itu, harus ada banyak lab yang lain menghasilkan data negatif yang sama sehingga menguatkan dugaan adanya pemalsuan data.

Demikian juga, kita bisa banyak belajar dari data negatif atau tidak terdeteksinya (0 nol, zilch) MERS-Cov alias virus corona penyebab MERS pada jutaan jemaah haji paska merebaknya wabah MERS di Saudi Arabia di tahun 2014 (Memish ZA et al 2018). Kekuatiran tentang ditemukannya infeksi MERS-COv tentu menguatirkan, mengingat tingkat fatalitas (kematian) akibat paparan MERS-Cov ini mendekati 35%, bandingkan dengan SARS-COv (10%) dan SARS-Cov2(2-3%).

Pertanyaannya kok bisa?

Bukankah 2 juta jemaah haji yang berkerumun di Saudi merupakan ’sitting ducks’ yang bisa ditargetkan oleh MERS-Cov? Dan bayangkan dampaknya seandainya beberapa jemaah haji pulang membahwa MERS-Cov ke negeri asal masing-masing? Alhamdulillahi robbil alamin, hingga kini belum ada laporan infeksi MERS-Cov pada jamaah haji. Indonesia sendiri pernah menguji lebih dari 20 ribu jamaah haji yang pulang melalui Surabaya dan menemukan data yang sama, yaitu negatif MERS-Cov (Amin et al 2018).

Kita yakin bahwa adalah taqdir Allah azza wa jall, bahwa jamaah Haji dari berbagai penjuru negara masih diberi keamanan dari infeksi MERS-Cov. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa otoritas Saudi juga tidak serta merta hanya menyerahkan diri secara pasrah terhadap taqdir apapun yang Allah tetapkan, namun tetap mengikuti ‘Qadar’ mengenai transmisi MERS-Cov. Mengingat moda utama transmisi MERS-Cov ke manusia melalui Onta (Pagani et al 2015), maka otoritas Saudi membatasi semua kemungkinan bertemunya jamaah haji dengan Onta dromedary (onta berpunuk satu) (Memish ZA et al 2018).

Demikian juga sistem pemantauan yang komprehensif juga cepat mengidentifikasi jamaah yang memiliki masalah pernafasan untuk segera dirawat di klinik terdekat. Hanya saja masalah penyakit pernafasan memang isu utama bagi para jamaah. Maka meskipun MERS-Cov tidak ditemukan, laboratorium di berbagai negara menemukan virus lain seperti rhinovirus, influenza A dan coronavirus 229E (At Tawfiq et al 2018).

Zero COVID19 di Indonesia (per 12 February 2020)
Beberapa waktu lalu Harvard School of Public Health melakukan analisa membuat model korelasi antara volume penerbangan dengan tingkat ditemukannya SARS-Cov2. Dari grafik ini bisa terlihat bahwa semakin tinggi volume penumpang dalam penerbangan dari dan ke Cina, maka semakin tinggi pula ditemukannya infeksi SARS-Cov2 Berdasarkan data jumlah penumpang dan jumlah yang terkonfirmasi, ada korelasi yang sesuai sebagaimana terlihat di Malaysia, Vietnam dan Singapore. Sedangkan untuk indonesia yang seharusnya memiliki pola yang mirip (sekali lagi berdasarkan volume penumpang penerbangan), nampaknya berada di rentang terbawah. Artinya meskipun sejauh ini tidak ada warga Indonesia yang kembali dari Cina terinfeksi SARS-Cov2, kita tetap harus waspada.

Bagi saya pribadi, data ini cukup membantu untuk terus mengingatkan kita jangan sampai lengah, dan tetap memperketat surveilans. Malah saya justru melihat adanya peluang bagus untuk berkontribusi secara ilmiah. Sebelum saya bahas, apa peluangnya berikut kita analisa kemungkinan yang bisa menjelasakan Nol SARS-COV2

Apa saja aspek atau faktor yang bisa menjelaskan 0 (NOL) SARS-Cov2?

1. Kompetensi teknis

Mengapa kompetensi? karena ’usual suspect’ atau tersangka utama adalah kompetensi dari pelaku studi (teknisi, peneliti, termasuk kemampuan untuk menvalidasi prosedur teknis dan ketersediaan alat). Sebagai mantan mahasiswa paska sarjana biomedis, saya tahu betul bagaimana rasanya presentasi hasil eksperimen data negatif (tidak terdeteksi) saat progress report mingguan dihadapan mahasiswa dan postdoc lalu disidang oleh Kepala Lab,” Orang lain mampu mendeteksi kecuali kamu??”. Nah buat saya saat itu, kritik pedas menjadi pemicu untuk bekerja secara hati-hati dan belajar memastikan semua parameter memang terkontrol secara solid dan belajar mengkomunikasikan bukti-bukti yang saya punya.

Perlu diketahui tim peneliti Litbangkes memiliki rekam jejak penelitian yang panjang dan serius sejak kepemimpinan Dr Endang R Sedyaningsih (Allahuyarham) dalam studi penyakit pernafasan seperti wabah flu burung beberapa tahun silam (Setiawaty et al 2018). Demikian pula alat deteksi biologi molekuler yang ada di Indonesia sudah ada semua, mulai dari PCR konvensional hingga quantitative reversetranscript Real-Time PCR. Sedangkan kit deteksi secara spesifik terhadap SARS-COV2 standar WHO memang agak terlambat datangnya di saat awal wabah. Namun kit tersebut sudah datang dan sudah digunakan untuk mendeteksi hampir 70 pasien terduga terinfeksi SARS-COV2.

[Sebenarnya, regensia penelitian datang terlambat itu music-to-my-ear. Entah apalagi yang bisa peneliti indonesia lakukan terkait keterlambatan reagens agar laju penelitian bisa lancar dan produktif.]

Maka, kita bisa coret masalah kompetensi ini.

2. Orang “Indonesia” kebal?

SARS-COV2 bukanlah coronavirus yang spesifik mentargetkan etnis Cina. Apalagi kalau dikaitkan narasi horor keterlibatan senjata biologis, akan semakin absurd. Berikut video penjelasan mengapa narasi senjata biologis pada kasus ini justru tidak masuk akal.

Studi penelitian bioinformatik dari SARS-Cov2 ini menunjukkan adanya kelestarian sequence gen S (Spike) SARS-Cov2 dengan SARS-Cov. Artinya, ada dugaan kuat bahwa mereka berdua mentargetkan reseptor ACE2. Mengingat variasi genetik ACE2 reseptor ini umum ditemukan di semua etnik, maka tidak ada alasan bahwa etnik selain etnik Cina akan terlindungi dari SARS-COV2.

Kabar mengenai wabah SARS-Cov2 yang menimpa 174 penumpang dari 3,711 penumpang dari berbagai negara (dan etnik) yang berlibur di Kapal pesiar mewah Diamond Princess menunjukkan bahwa virus ini tidak membedakan etnik atau suku tertentu. Infeksi ini ternyata dimulai dari 1 (satu) penumpang saja, yang kemudian menginfeksi penumpang lainnya. Maka, kunci penyebarannya memang melalui kontak fisik dengan penderita, dengan orang yang memiliki gejala (meskipun gejalanya bisa dibilang sangat mild atau tidak terlihat nyata), atau pernah melakukan perjalanan ke Wuhan sebagaimana dicontohkan pada kasus infeksi SARS-Cov2 di Jerman (Rothe 2020), dan Vietnam (Phan 2020).

Maka secara prinsip orang ‘Indonesia’ tidak kebal. Mengapa ‘Indonesia’ dalam tanda petik? Karena ‘Indonesia’ adalah entitas politik, bukan etnik. Maka adalah sebuah misnomer untuk menyatakan adanya ‘gen Indonesia’. Warga Indonesia adalah homo sapiens dan kita semua memiliki ACE2 receptor.

3. Iklim lembab

Ini bukan alasan kuat mengapa tidak atau belum ditemukannya SARS-Cov2 di Indonesia, mengingat hampir semua negara ASEAN sudah menemukan kasus COVID19 di negara masing-masing.

4. Spicy Culinary Diet

Apakah karena kuliner Indonesia yang pedas? banyak kunyit, jahe, dan rempah-rempah lainnya? Mungkin saja, tetapi apakah diet tersebut berbeda dari kuliner Thai yang juga kaya dengan rempah-rempahnya?

PELUANG Kontribusi Ilmu

Ada peluang bagus terkait Zero SARS-Cov2 (per 12 Februari 2020), yaitu peluang untuk mempublikasikan data 68 kasus WNI yang terduga terkena COVID-19 namun tidak terdeteksi SARS-Cov2. Yang diperlukan sekarang adalah berbagi data yang kita punya ke dunia. Dalam artikel yang perlu disiapkan tulisannya (dan saya kok optimis tim Litbangkes saat ini sedang menyiapkan manuskripnya, semoga), berikut ini ada beberapa poin penting yang layak dilaporkan minimal ekspektasi benak saya (atau mungkin para reviewers yang akan mendapatkan draft manuscript ini kelak):

1. Deskripsi teknis, mulai handling hingga isolating total RNA (materi genetik) dari spesimen klinis (moda preservatif, lama pengerjaannya), kendali mutu terhadap kualitas RNA yang terisolasi, sedetil-detilnya. Lalu prosedur validasi pada reagen kontrol positif, kontrol negatif, kontrol internal. Kalau perlu contoh hasil qrRTPCR bisa ditampilkan untuk menunjukkan kepada reviewers bahwa seluruh indikator atau parameter pengerjaan teknis sudah dilakukan secara sempurna. Apabila diperlukan, sebagian sampel bisa dibagi dengan lembaga penelitian lain untuk diverifikasi hasil pengerjaan qrRTPCR nya.

2. Deskripsi sumber sample seperti rongga mulut, sputum, throat swab, darah, feces dan lain-lain. SARS-Cov2 ini agak unik karena virus ini juga ‘bersembunyi’ di lower respiratory tract, sehingga mengeluarkan sampelnya juga perlu bantuan khusus.

3. Deskripsi detil tentang riwayat perjalanan 68 pasien (disamping data demografi klinis), kemana saja dan dimana saja singgahnya dari dan ke Cina. Informasi spasial ini bisa membantu untuk memetakan apakah ada ‘clusters of sanctuary’ atau ‘sekelompok daerah aman’ dari jangkaun virus sehingga seakan ‘terbebas’ dari SARS-Cov2 ini. Demikian juga riwayat diet/konsumsi makan apa saja sehingga akan jadi menarik untuk dibandingkan profil diet dari pasien lain di dunia yang terinfeksi SARS-Cov2.

4. Perlu dipertimbangkan juga untuk mendeskripsikan hasil uji atau deteksi ada/tidaknya virus selain SARS-Cov2 pada 68 sampel yang negatif SARS-Cov2. Data ini juga bisa membantu meyakinkan bahwa pada pasien dengan hasil negatif SARS-Cov2 ternyata memang terindikasi infeksi virus yang lain.

5. Seandainya nanti ditemukan ada sampel yang positif terinfeksi SARS-Cov2, maka akan sangat bagus untuk ditindaklanjuti dengan direct DNA sequencing atau akan lebih bagus dengan NextGen Sequencing (sebagaimana yang sudah dimiliki oleh beberapa lab di Indonesia). Tujuannya adalah memantau indentitas genom virus SARS-Cov2, apakah masih 100% identik dengan kasus di negara lain, atau justru apakah sudah mulai bervariasi.

Hasil tes positif dan negatif sebenarnya sangat penting. Hanya saja kalau kita hanya ‘sendirian’ di antara negara2 dengan volume penumpang yang mirip dengan kita, akan terlihat kurang lazim. Apapun hasilnya, hasil positif atau negatif, misalnya, maka wajar bagi kita untuk berani tampil berbagi data solid dengan dunia, untuk kebaikan kita semua in syaa Allah.

Wallahu a’lam bi ash showwab.

Referensi

Al-Tawfiq, J.A., Benkouiten, S., & Memish, Z.A. (2018). A systematic review of emerging respiratory viruses at the Hajj and possible coinfection with Streptococcus pneumoniae. Travel medicine and infectious disease, 23, 6-13 .

Amin, M., Bakhtiar, A., Subarjo, M., Aksono, E.B., Widiyanti, P., Shimizu, K., & Mori, Y. (2018). Screening for Middle East respiratory syndrome coronavirus among febrile Indonesian Hajj pilgrims: A study on 28,197 returning pilgrims. Journal of Infection Prevention, 19, 236 – 239.

Hopley, R. (2010). Contagion in Islamic Lands: Responses from Medieval Andalusia and North Africa. Journal for Early Modern Cultural Studies, 10, 45 – 64.

Memish, Z.A. (2018). MERS: What is the current situation in Saudi Arabia? Journal of travel medicine, 25 1.

Ober, W.B., & Aloush, N. (1982). The plague at Granada, 1348-1349: Ibn Al-Khatib and ideas of contagion. Bulletin of the New York Academy of Medicine, 58 4, 418-24 .

Pagani, O., Regan, M., & Francis, P. (2015). Evidence for Camel-to-Human Transmission of MERS Coronavirus.

Phan, L.T., Nguyen, T.V., Luong, Q.C., Nguyen, H., Le, H.Q., Nguyen, T.L., Cao, T.M., & Pham, Q.D. (2020). Importation and Human-to-Human Transmission of a Novel Coronavirus in Vietnam. The New England journal of medicine.

Rothe, C., Schunk, M., Sothmann, P., Bretzel, G., Froeschl, G., Wallrauch, C., Zimmer, T., Thiel, V., Janke, C., Guggemos, W., Seilmaier, M., Drosten, C., Vollmar, P., Zwirglmaier, K., Zange, S., Woelfel, R., & Hoelscher, M. (2020). Transmission of 2019-nCoV Infection from an Asymptomatic Contact in Germany. The New England journal of medicine. (Paper ini ini sekarang dikritik karena wanita dari Cina yang dikontak ternyata memiliki gejala yang sangat mild sehingga dikira tidak memiliki gejala).

Setiawaty, V., Puspaningrum, M.A., Nugraha, A.A., & Wahyono, D.J. (2018). Deteksi Virus Penyebab Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Rumah Sakit (Studi Pendahuluan dengan Uji Fast-Track® Diagnostik).

LEAVE A REPLY