Teladan Islam Dalam Pemulihan Mental Korban Gempa

0
247

Oleh: dr. Toreni Yurista

Bencana gempa selalu menimbulkan trauma. Bagaimana tidak, musibah gempa menyebabkan korban mengalami guncangan emosi yang dahsyat akibat kehilangan segala yang berharga secara cepat dan mendadak. Tak jarang muncul keinginan untuk mengisolasi diri, bahkan mengakhiri hidup.

Situasi pasca gempa seperti ini disadari betul oleh Islam. Tak hanya mengajarkan tawakkal, Islam di masa kejayaannya telah memberikan seperangkat gambaran untuk mempercepat pemulihan jiwa korban gempa. Setidaknya ada tiga teladan penting yang patut menjadi perhatian kita:

Kesungguhan Negara, Kunci Tumbuhnya Asa

Pada musim panas 1509, gempa bumi besar melanda Istanbul. Gempa yang diperkirakan bermagnitudo 7.2 tersebut telah merusak 109 masjid dan 1.070 rumah. Jumlah korban tewas sekitar 5.000 hingga 10.000 jiwa.

Bencana ini segera direspon oleh khalifah. Sekitar 10% dari total pendapatan Kekhilafahan Utsmaniyah dikumpulkan hanya untuk pemulihan gempa di Istanbul. Pemerintah menjalankan rencana pemulihan dengan memobilisasi 55.308 pekerja dari seluruh wilayah Utsmani.

Melihat kesungguhan pemimpin negara, rakyat dari berbagai daerah berbondong-bondong menjadi sukarelawan. Akibatnya, jumlah pendatang menjadi jauh lebih banyak daripada yang dipesan. Total terdapat 3.000 ahli konstruksi, 11.000 tukang, dan 52.000 buruh.

Di samping para pekerja ini, 11.000 tentara juga ikut membantu membakar kapur untuk adukan semen. Jika kita memperhitungkan penduduk Istanbul pada waktu itu (yang belum mencapai 200.000 jiwa), maka jumlah tenaga kerja dari kalangan sipil dan militer ini amatlah luar biasa.

Dana dan sukarelawan yang terkucur deras berkat inisiatif pemerintah menyebabkan pemulihan kondisi jiwa korban berlangsung sangat intensif. Warga yang sudah tidak tidur di bawah atap selama lebih dari dua bulan (akibat lamanya gempa susulan) masih bisa menunjukkan kobaran semangat untuk membangun kembali kota yang tinggal puing.

Terbukti, tatkala gempa telah mereda, proses pembangunan kota hanya membutuhkan waktu 64 hari. Kazuaki Sawai bahkan menilai keberhasilan memulihkan Istanbul dari Gempa Besar 1509 ini berperan besar dalam mempercepat pembangunan kota tersebut sehingga mampu menjadi ibukota Utsmani beberapa dekade kemudian.

Pemulihan dengan Strategi Komunal

Saat gempa melanda Granada di tahun 1431, orang-orang pergi ke tempat terbuka. Mereka mendirikan tenda bersama-sama dan mengungsi di satu tempat. Begitu pula saat kota Zayla’ di Yaman berguncang pada tahun 1504, penduduk sepakat tinggal di lepas pantai dan mendirikan gubuk dari kayu.
Para tokoh agama menginstruksikan warga agar meninggalkan rumah dan berkumpul untuk memanjatkan doa. Bangunan masjid dan gereja dikosongkan. Shalat dan kegiatan ibadah dilakukan bersama-sama di lapangan dan lahan terbuka.

Corak kebersamaan yang khas ini memungkinkan masyarakat Islam lebih adaptif terhadap bencana. Sebagaimana diungkapkan Mevludin Hasanović, pendekatan komunal memberikan mekanisme koping yang lebih baik ketimbang sesi terapi individu.

Penelitian di Malaysia bahkan menunjukkan bahwa gelombang otak alfa meningkat ketika para korban gempa diajak melakukan dzikir dan doa bersama. Pemulihan dengan pendekatan psiko-spiritual yang dilakukan secara komunal memungkinkan korban merasa lebih tenang dan ikhlas menerima musibah.
Kebersamaan memang sudah mendarah daging dalam masyarakat Islam. Islam mengibaratkan sesama muslim bagaikan satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, yang lainnya ikut merasakan. Rasa empati yang tumbuh dari prinsip hidup ini sangat berkontribusi dalam menumbuhkan kembali optimisme korban gempa.

Optimisme Tanpa Fatalisme

Pada abad pertengahan, lazimnya gempa dijelaskan dengan definisi pseudo-fisik. Gempa bumi hanya dianggap sebagai kehendak Tuhan karena manusia telah melakukan dosa. Tidak ada keterangan ilmiah bagaimana terjadinya gempa.

Penjelasan seperti ini menimbulkan sikap fatalisme. Karena hanya dianggap sebagai murka Tuhan, manusia cukup menerima begitu saja kondisi yang terjadi sehingga tidak perlu dilakukan proses evaluasi yang bisa mencegah dampak gempa di kemudian hari.

Hal ini berseberangan dengan ajaran Islam. Meski Islam mengajarkan kisah-kisah tentang adzab Allah, bukan berarti Islam menumbuhkan fatalisme. Justru sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk berpikir jauh ke depan.

Sejak masa awal Islam, penjelasan ilmiah sudah diadopsi oleh para ilmuwan seperti al-Kindī, Ibnu Sina, al-Qazwīnī, dan al-Tīfāshī. Al-Kindī misalnya, menulis sebuah surat berjudul “Ilmu Tentang Gas di Dalam Perut Bumi, Penyebab Munculnya Gempa dan Gua”. Ibnu Sina, dalam essaynya yang panjang tentang gempa bumi, memberikan metode untuk menghilangkan penyebab gempa bumi.

Di daerah-daerah yang sangat rentan terhadap gempa bumi, penduduk diajari bahwa pondasi yang kuat dan dalam adalah jaminan agar bangunan tidak mudah roboh. Dinding diberi dimensi besar untuk mendukung kubah jika terjadi guncangan. Para arsitek sangat berhati-hati dalam membuat rancangan kota tahan gempa.

Hasilnya bisa kita lihat hingga sekarang. Monumen-monumen Islam di Kairo terbukti tahan terhadap gempa bumi hebat di tahun 1992. Begitu pula masjid Jami’ Kasmir yang dibangun tahun 1394 M masih tetap tegak sampai hari ini meski berkali-kali diterjang gempa.

Referensi

  1. Adiyosi, Wignyo & Hideko Kanegae. The Preliminary Study of The Role of Islamic Teaching in The Disaster Risk Reduction (A Qualitative Case Study of Banda Aceh, Indonesia). Procedia Environtmental Science Vol 17 , 918 – 927, 2013, https://ac.els-cdn.com/S1878029613001126/1-s2.0-S1878029613001126-main.pdf?_tid=5c54dc52-bc72-45e1-b683-bcabd60a5bf8&acdnat=1536283662_dee4ca2050051053d8d335ae09537f19
  2. Anees, Sidrat Ul Muntaha. Field Survey on Historical Monuments for Assessment of Earthquake Resistant Structures: Case Study of Srinagar Capital City of Jammu & Kashmir, India. International Journal of Scientific and Research Publications, Vol 5:12, 109 December 2015.
    www.irjabs.com/files_site/paperlist/r_2722_150808145921.pdf
  3. Blanch, Andrea. Integrating Religion and Spirituality in Mental Health: The Promise and the Challenge. Journal of Psychiatric Rehabilitation, Vol 30(4), 251-260, 2007. https://pdfs.semanticscholar.org/bb22/ae294598e8ba132468bbe4ee095aba09c3eb.pdf
  4. Call, Celeb M. Viewing a World of Disaster Through The Eyes of Faith: The Influence of Religious Worldviews on Community Adaptation in The Context of Disaster-related Vulnerability in Indonesia. 2012 https://lib.dr.iastate.edu/cgi/viewcontent.cgi?referer=https://www.google.com/&httpsredir=1&article=3296&context=etd
  5. Gari, Lutfallah. Knowledge versus Natural Disasters from Arabic Sources. 2004. http://www.muslimheritage.com/article/knowledge-versus-natural-disasters
  6. Hassan, Siti Aishah et all. Empirical Evidence-based Policy for Islamic Psycho-spiritual Intervention: Using Electroencephalography for Post-Traumatic Stress Disorder. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences Vol. 7, 2017 http://hrmars.com/hrmars_papers/Empirical_Evidence-based_Policy_for_Islamic_Psycho-spiritual_Intervention_Using_Electroencephalography_for_Post-Traumatic_Stress_Disorder.pdf
  7. Mevludin Hasanović et all. Spiritual and Religious Islamic Perspectives of Healing of Posttraumatic Stress Disorder. 2017. https://www.heighpubs.org/hda/pdf/ida-aid1004.pdf
    Rahiem, Maila et all. Religious Interpretations and Phychological Recovery from The Aceh 2004 Tsunami: The Promise of Heaven, Healing the Trauma. Disaster Risk Reduction in Indonesia: Progress, Challenges, and Issues. 2017. https://books.google.co.id/books?id=DbPHDgAAQBAJ&pg=PA497&lpg=PA497&dq=mental+recovery,+disaster,+Islam&source=bl&ots=TkFJwbvT3p&sig=nqbJZu8zoGt77l3s9XhvMxosi_M&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjI9bShm6DdAhXYdn0KHYz8D-oQ6AEwBnoECAEQAQ#v=onepage&q=mental%20recovery%2C%20disaster%2C%20Islam&f=false
  8. Sawai, Kazuaki. The 1509 Istanbul Earthquake and Subsequent Recovery. Mediterranean world = 地中海論集, Vol 22: 29-42, 2015. https://hermes-ir.lib.hit-u.ac.jp/rs/bitstream/10086/28560/1/chichukai0002200290.pdf

LEAVE A REPLY