Mortalitas Moralitas

0
100

Oleh: Ratih Paradini S.Ked (HELP-S muda)

 

Moralitas adalah istilah terhadap jumlah kejadian kematian. ‘Mortalitas moralitas’ itu istilah yang menghampiri benak saya saat melihat video anak SD sedang mencoba beradegan ‘bercinta’ dengan seragam sekolah.

Perilaku tak senonoh itu terjadi diruang publik ditonton teman-teman sebayanya yang juga masih memakai putih merah, bukan dicegah mereka hanya disoraki dengan tepukan tangan dan tawa bahagian teman-temannya

Saat terjadi peningkatan mortalitas akibat penyakit tertetu apalagi jika karena wabah, maka segala upaya akan dilakukan, mulai dari upaya preventif (pencegahan) hingga kuratif (pengobatan). Berbagai program dilancarkan, jikapun merogoh sejumlah dana besar tak mengapa demi menekan angka mortalitas

Bagaimana kiranya jika yang mengalami peningkatan mortalitas adalah moralitas anak bangsa?. Ini bukan soal anak orang belaka, fakta video anak SD tersebut potret tak terbantahkan bahwa generasi penerus mengalami degradasi moral yang memprihatinkan

Semua lini layak waspada dan berusaha menekan angka mortalitas moralitas anak bangsa. Saat arus deras berbagai informasi begitu mudah didapatkan dizaman digital ini, anak-anak tak hanya belajar dari orang tua dan guru. Dunia digital menjadi guru alam maya yang juga berpengaruh signifikan terhadap anak zaman now. Mirisnya ketika banjir informasi ini justru banyak melayangkan konten-konten tidak layak tonton. Faktanya Indonesia menempati  peringkat no 2 sebagai negara pengakses pornografi di dunia (8 desember 2018 nasional.republika.co.id)

Peran setiap pihak dibutuhkan, mulai dari didikan agama dirumah, hingga mengintegrasikan aqidah dalam pembelajaran sekolah. Tidak selayaknya memisahkan agama dari kehidupan dan mata pelajaran

Dalam pendidikan keluarga anak usia dini diberikan pemahaman tentang identitasnya sebagai hamba, pengenalan batasan aurat dan interaksi ikhwan akhwat serta pemisahan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan diusia 7 tahun

Namun tak cukup dirumah, lingkungan yang kondusif berperan dalam pendidikan moralitas anak.Diera liberalistik, saat kebebasan menjadi filosofi manusia, dan materialisme jadi standar kehidupan akan begitu sulit membuat lingkungan, tontonan dan pandangan terjaga. Akan terus bermunculan publik figur dengan life style buruk yang mudah ditiru generasi mudah. Generasi mudah lebih mudah mengenal Dilan dibanding tokoh Islam. Saat artis dibayar mahal untuk merusak moral (meski tidak semua artis), guru malah digaji murah untuk memperbaiki moral

Negara dengan segala perangkatnya hanya jadi tameng yang mandul mencegah mortalitas moralitas selama paradigma liberal dan sistem kapitalism-sekulerisme tetap tegak.

Jika Islam diterapkan secara kaffah dalam naungan Khilafah. Pendidikan qur’ani berasas aqidah akan jadi dasar kurikulum pendidikan, dengan jaminan akses pendidikan terhadap warga dan gaji yang layak untuk tenaga pengajar. Selain itu, Kebebasan berekspresi akan dibatasi, situs-situs porno akan dihabisi. Integrasi setiap lini dalam upaya menekan mortalitas moralitas hanya efektif ketika Islam dijadikan landasan dalam berbangsa dan bernegara

LEAVE A REPLY