BPJS Pailit?

0
159

Oleh: dr. Muhammad Amin, Sp.MK (Kajian Strategis HELPS)

Watak dasar dari kapitalisme adalah menganggap persoalan utama ekonomi ada pada kelangkaan barang dan jasa. Tak diragukan lg mereka menggenjot pertumbuhannya, dan menyerahkan distribuinya kpd mekanisme harga. Dg kata lain hanya pihak yg punya uanglah yg dapat menikmatinya. Tanpa uang jangan harap barang dan jasa akan anda dapatkan.

Kesehatan sangat seksi sekali sebagai komoditas ekonomi. Produksi layanan kesehatan menjadi salah satu hal yg diingini oleh para pemodal unt dijadikan bidang bisnisnya. Mereka menggenjot pertumbuhannya. Bagus dan tak ada persoalan jika distribusinya baik2 saja. Akan tetapi tak dapat dipungkiri inflasi yg disebabkan oleh banyak hal dalam sistm kapitalisme mejadikan daya beli rakyat turun. Sebenarnya ini ancaman serius bagi podusen pelayanan kesehatan: over produksi, tp gk ada yg mampu membeli. Disinilah dibutuhkan suasana “gotong-royong” di antara rakyat. Jika anda sakit dan gak mampu bayar layanan kesehatan, seharusnya tetanggamu, temanmu, kakak, dan adikmu, gurumu, pembantumu semuanya urunan membiayai kebutuhanmu di bidang kesehatan, melalui sistem asuransi. Apakah biar anda sembuh? Bukankah ada semacam pengelompokan penyakit yang sdh ditentukan besaran biaya perawatannya? Sembuh atau tdk, kalau sdh habis “jatah biaya yg dikover pihak asuransi” ya sudah. Terserah rumah sakit atau dokter yg merawat: mau dirawat terus atau bagaimana. Yang pasti adalah obat dan alkes yg over poduksi tadi sdh terjual. Mau anda sembuh atau belum sembuh, ya I don’t care.

Sistem seperti ini lalu ditawarkan kpd pemerintah tertentu. Secara kebetulan pemerintah tertentu tersebut sedang mencari format “yang baik” untuk mengurusi kesehatan rakyatnya. Maka dibuatlah regulasi: rakyat semuanya harus ikut dalam suasana “gotong-royong” ini. Kalau gk ikut, awas kalau sampai ngurus SIM, IMB dll gk bakal dilayani.

Dan rakyat kabarnya banyak yang enggan membayar iuran gotong- royong tadi. Sementara itu biaya operasional perusahaan asuransi harus jalan terus. Peserta yg sakit berat dan berbiaya mahal banyak yang harus ditanggung. Ya, defisit deh.
Apakah pailit, sehingga para kapitalis produsen obat dan alkes jadi terancam gk ada yg beli? Tenang saja, perusahaan asuransi tak dapat dipailitkan kok. Artinya mungkin akan ada dana talangan dari pemerintah.

Jadi sebenarnya atau seharusnya bagaimana?

LEAVE A REPLY