“SIFILIS” dan “SEPILIS” dari Sudut Pandang Kesehatan Komunitas

1
983

Oleh: Reza Wiguna, S.Kep, Ns
(Mahasiswa Pascasarjana Keperawatan Komunitas, Anggota HELP-S)

Sifilis dan Sepilis. Dua penyakit yang sama-sama mengancam. Yang pertama sifilis, suatu penyakit komunitas yang di awam dikenal juga sebagai si raja singa. Sementara Sepilis merupakan akronim dari sekularisme, pluralisme, dan liberalisme, penyakit komunitas yang tak kalah berbahayanya. Namun yang mana di antara keduanya yang lebih berbahaya? Tulisan ini mencoba melakukan analisa dari sudut pandang kesehatan komunitas.

Sifilis merupakan penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset treponema pallidum. Penularannya melalui kontak seksual, dan bisa menyebar melalui pajanan cairan tubuh penderitanya misalnya melalui darah, infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran. Orang yang telah terinfeksi penyakit sifilis umumnya tidak akan merasakan gejala selama bertahun-tahun. Sehingga mereka yang terkena sifilis, banyak yang tidak meyadari bahwa dirinya telah terinfeksi penyakit sifilis. Gejala umum yaitu terdapat perlukaan atau dikenal dengan istilah “chancre” dapat ditemukan dimana saja tetapi paling  sering  di  alat kelamin. Perjalanan penyakit ini cenderung kronis dan bersifat  sistemik.

Ancaman epidemisnya juga tidak main-main. Sifilis dalam penelitian Stamm, 2010. Disebutkan telah menginfeksi 12 juta orang pada tahun 1999, dengan lebih dari 90% kasus terjadi di negara berkembang. Penyakit ini memengaruhi 1,6 juta kehamilan setiap tahunnya, mengakibatkan aborsi mendadak, dan kematian janin dalam kandungan.

Namun, dengan kemajuan pengobatan dan ‘kesadaran’ penggunaan kondom, jumlah penderita sifilis ini sudah menurun di dekade ini. Bahkan, saat ini sudah mulai langka pasien berobat dengan penyakit sifilis.

Namun bagaimana dengan wabah sepilis?

Sepilis adalah trilogi penyakit yang meliputi sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Ketiganya adalah paket yang tidak bisa dipisahkan. Sekulerisme   adalah sebuah pemahaman  yang memisahkan agama dari kehidupan. Di tengah kehidupan saat ini perlu diketahui bahwa paham sekulerisme bukan melarang adanya agama, melainkan agama harus dipisah dari aturan kehidupan. Lalu Pluralisme merupakan paham yang mendoktrinkan bahwa kebenaran itu bersifat relatif, dimana pandangan ini menyatakan semua agama adalah sama. Sedangkan Liberalisme merupakan sebuah pandangan yang didasarkan pada kebebasan dan persamaan adalah yang utama. Secara umum, liberalisme dicirikan oleh kebebasan berpikir.

Sepilis merupakan wabah yang tidak hanya mengivasi fisik saja. Dia adalah infeksi yang telah lama menjangkit kehidupan ummat manusia, dan uniknya penyakit jenis ini seringkali asimptomatik pada awal serangannya, sehingga banyak masyarakat tertipu, tidak sadar dan tenang-tenang saja kala terinfeksinya.

Dimana letak ancaman dan bahayanya? apa yang menyebabkan “sepilis” bisa menimbulkan sesuatu yang bersifat endemis merugikan masyarakat?

Jika penyakit sifilis menyerang kelompok dalam lingkup yang lebih kecil, hal itu berbeda dengan sepilis yang wabahnya multidimensional. Kita bisa melihat secara luas dan nyata di sekitar kita. Begitu berjejalnya kerusakan yang kita lihat. Jutaan kasus aborsi, peningkatan kasus narkoba, rusaknya keharmonisan keluarga, ribuan anak – anak terlantar, eksploitasi perempuan, kejahatan seksual, dan sebagainya. Instabilitas ekonomi, penguasaan sumber daya alam oleh segelintir orang,  budaya korupsi yang mewabah, kerusakan lingkungan, ketidakadilan yang menimpa umat islam serta penistaan agama adalah bukti nyata dari kerusakan dan kerugian penyakit tersebut.

Berdasarkan survei Gallup belum lama ini menunjukkan 50 persen rakyat Amerika Serikat mendukung legalisasi perkawinan sesama jenis. Meningkatnya penderita HIV/AIDS tidak menghentikan preferensi terhadap hubungan homoseksual. Padahal di AS sekitar 1,2 juta dari total populasi terinfeksi HIV pada tahun 2011. Yang mengenaskan, data 2009 menyebutkan sekitar 4.000 anak-anak terjangkit virus AIDS melalui penularan dari ibu-anak.  Seks bebas di Amerika Serikat saja, sejak 1973 sampai 2002, seks bebas telah mengakibatkan 42 juta aborsi atau 4.000 perhari. Sedangkan di Indonesia dilaporkan dalam laman antaranews.com lebih parah lagi, aborsi terjadi 2,5 juta jiwa/tahun. Jumlah ini lebih banyak dari total korban perang Perang dunia II (407.316 jiwa) + Perang Dunia I (116.708 jiwa).

Dan kita harus jujur mengatakan, semua yang terjadi di atas hanyalah kumpulan simptom yang datang belakangan sebagai hasil dari sepilis yang sebelumnya di masa inkubasinya asimptomatis. Dan kini gejala kesakitannya telah menjelma menjadi sebuah ledakan.

Wabah sepilis sudah lama menyebar di masyarakat. Namun sayangnya diagnosisnya boleh dikatakan terlambat. Diagnosis penyakit ini baru berhasil ditegakkan di kala penyakit ini sudah terlanjur mengganas. Di Indonesia, sebagai sebuah komunitas yang terjangkiti wabah ini, sepilis telah lama bersarang, namun tegaknya diagnosis ini boleh dikatakan terlambat. Dalam munas ke VII tahun 2005, MUI mengeluarkan fatwa haramnya penyakit tersebut. Ya, kita menyambut gembira, MUI telah memberikan resep untuk menghancurkan sepilis hingga ke etiologinya. Sayang, resep itu dianggurkan saja oleh negara sebagai pengidap penyakit. Negara lebih rela menggunakan terapi dari dukun-dukun palsu.

Padahal Allah, sang pemilik semesta telah jauh-jauh hari menegaskan ancaman bagi orang yang tidak mau menggunakan terapi dari-Nya:

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan terima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS. Ali Imran [3]: 85).

Spiral kemunduran berputar semakin cepat, terapi yang tidak berdasarkan evidence based hanya akan mengakibatkan tingkat morbiditas semakin lama semakin tinggi. Umat ini harus segera disadarkan. bahwa kehidupan saat ini sedang terinfeksi paham “sepilis”. Sudahlah, mari beralih ke terapi yang sudah terbukti dan teruji secara klinis, yakni kembali pada tatanan kehidupan yang didasarkan pada islam. Sebab, dengan serangkaian sistem kehidupanya, Islam merupakan solusi bagi seluruh problematika dan penyakit kehidupan manusia. Wallahu Aa’lam.