Pembeda Kualitas

0
547

Oleh: dr. Ahmad Adityawarman (Wakil Sekjend HELP-S)

Ada sebuah ‘quote’ yang sangat menarik dari seorang narapidana, saat saya bertugas di LP untuk melakukan skrining kesehatan bagi terpidana kasus narkoba. Di tengah pemeriksaan, salah satu napi yg masih muda berkata kepada saya,

“Pak, jangan anggap kami ini penjahat, kami ini sesungguhnya hanya orang-orang yang tersesat..”

Karena diucapkan dengan nada setengah bercanda, saya pun tertawa dan berkata, “Iya…”

Tentu saja saya tidak bisa berbincang lebih lama, karena masih ada antrian napi lain yang menunggu diperiksa. Setelah selesai dan beres-beres kami pun diantar pulang oleh petugas dari Kemenkumham.

Ini baru pertama kalinya saya memasuki lapas dan berinteraksi langsung dengan narapidana. Lapas di sini sangat luas dengan areal yang bisa menampung sampai 3000an napi, dikelilingi pagar pembatas dengan tinggi 8 meter dan kawat berduri di atasnya.

Sebelum pemeriksaan, saya & senior sempat berbincang-bincang dengan petugas. Senior saya sempat bilang ada perasaan ngeri & takut. Saya bertanya, apakah ada kasus napi yang berkelahi & jadi beringas di dalam lapas. Petugas menjawab pernah menemuinya beberapa kali.

Namun kesan menyeramkan itu sirna saat kami berinteraksi langsung. Tidak sedikit memang yang bertato, bertindik dan terlihat ‘sangar’. Tapi ternyata mereka sangat koperatif bahkan ada yang suka bercanda. Ada yang mengaku sempat takut masuk ruang pemeriksaan karena dikira akan disuntik.

Setelah pulang dari sana, saya memikirkan lagi ‘quote’ dari napi di atas. Saya teringat sebuah perkataan, bahwa menyadari kesalahan adalah langkah awal untuk memperbaiki diri. Seorang terpidana yang menyadari dirinya tersesat, tentu lebih baik daripada pendosa yang selalu melakukan pembenaran atas kesalahan yang ia lakukan.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.”

Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”.

Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 2766.)

Mengingat hadis di atas, kembali membuat saya berpikir, bahwa saya tidak pantas merasa diri lebih baik bahkan dibanding para penghuni prodeo tadi. Semua manusia memiliki kesamaan, pernah melakukan kesalahan. Keberanian dalam mempertanggungjawabkan adalah hal yang membedakan kualitas mereka.

LEAVE A REPLY