Mempertanyakan Dakwah Kondom Berpori

0
660

Oleh: dr. Fauzan Muttaqien (Sekjend HELP-S)

Hari AIDS sedunia kembali datang. Dan pembicaraan tentang perlawanan dan pencegahan AIDS biasanya mengemuka mengiringi peringatan tahunan ini. Termasuk yang banyak menyuarakan adalah kalangan aktivis dakwah Islam.

Saya, tentu berada di pihak yang menyuarakan pentingnya pencegahan AIDS dengan solusi syariat Islam. Tapi ada yang saya sesalkan dari suara-suara tentang pencegahan AIDS. Satu serpihan pembicaraan yang sering muncul di tulisan-tulisan dan artikel para aktivis dakwah.  Ilusi tentang kondom berpori.

Suara mereka menolak kondom biasanya mengemukakan alasan berikut: Bahwa kondom itu dibuat dari latex, berarti berserat berpori-pori. Dimana pori-pori itu berukuran 5-50 mikron, sementara virus HIV berukuran 0,1 mikron. Ini berarti seperti sebuah kelereng yang begitu mudah masuk ke dalam sebuah gawang sepakbola. Maka jelas kita ditipu, mana mungkin dengan pori-pori sebesar itu dapat mencegah virus HIV masuk?

Nah, anda yang memakai alasan itu, pernahkah mencoba mencek kebenaran pernyataan di atas.

Saya, hari ini tergerak untuk meneliti kebenaran informasi itu. Apa betul atau jangan-jangan cuma sekedar hoax? Sebagai seorang muslim tentunya kita nggak boleh sembarangan menggunakan suatu pernyataan yang belum tentu benar, hanya karena pernyataan tersebut mendukung pernyataan kita. Ibarat dalam ilmu hadits, yang dilihat jangan hanya ‘matan’nya. Lihat ‘sanad’nya. Bagaimana periwayatannya, apakah bersambung, apakah sahih. Kalau ternyata simpulannya adalah dha’if ya tak perlu dipakai.

Setelah saya telusuri, ternyata pernyataan tersebut bersumber dari sebuah artikel lama yang dimuat oleh The Washington Times, pada tanggal 22 April 1992. Ini merupakan surat singkat ke editor dari Dr. C.M. Roland, Editor of Rubber Chemistry and Technology. Berikut saya lampirkan suratnya.

THE TRUTH ABOUT “SAFE SEX” LEAKS OUT AT LAST! 

Are Condoms Safe?

A spokesman from the rubber chemistry industry answers 

The Washington Times, Wednesday April 22, 1992

My only comment is to point out that the rubber comprising latex condoms has intrinsic voids about 5 microns (0.0002 inches) in size. Since this is roughly 10 times smaller than sperm, the latter we effectively blocked in ideal circumstances.

The 12 percent failure rate of condoms in preventing pregnancy is attributable to in situ cracking, removal. ozone deterioration from improper sealing, manufactured defects, etc.

Contrarily, the AIDS virus is only 0.1 micron (4 millionths of an inch) in size. Since this is a factor of 50 smaller than the voids inherent in rubber, the virus can readily pass through the condom should it find a passage.

A reluctance to stake one’s life on the ability of a condom to prevent HIV infection bespeaks wisdom, not discrimination.

C.M. Roland

Editor. Rubber Chemistry Land Technology

Washington

 

Nah, sayangnya tulisan singkat ini memiliki posisi yang sangat lemah. Pertama, publikasinya bukan di jurnal ilmiah hanya di Washington Post, yang kedua tidak dilengkapi dengan rujukan data-data penelitian yang menunjang pernyataannya tersebut. Ketiga, sifat tulisan pun hanya berupa letter, bukan review atau research, jadi kesannya lebih berupa opini. Akibatnya nilai ‘dalil’ dari tulisan di atas jatuh ke ‘expert opinion’ yang dalam urutan rujukan ilmiah menduduki ranking terendah artinya tidak layak jadi sandaran.

Pernyataan Roland juga dibantah oleh banyak ahli. Bantahan mereka, Roland mendasarkan pernyataannya berdasarkan asumsi sarung tangan latex, bukan kondom. sementara The U.S. Public Health Service mengklaim kondom dibuat dengan standar yang lebih tinggi daripada sarung tangan. Penelitian kondom latex oleh the National Institutes of Health menggunakan mikroskop elektron menemukan tidak ada pori pada pembesaran 2000x

Ada beberapa expert opinion yang lain yang menentang kondom. Misal:

“Simply put, condoms fail. And condoms fail at a rate unacceptable for me as a physician to endorse them as a strategy to be promoted as a meaningful AIDS protection.” — Dr. Robert Renfield, chief of retro-viral research, Walter Reed Army Institute

“Saying that the use of condoms is ‘safe sex’ is in fact playing Russian roulette. A lot of people will die in this dangerous game.” — Dr. Teresa Crenshaw, member of the U.S. Presidential AIDS Commission and past president of the American Association of Sex Educators

Condoms aren’t safe. In 1993, Dr. Susan Weller of the University of Texas Medical Branch at Galveston reported that an analysis of data from 11 separate studies showed condoms had an average failure rate of 31 percent in protecting against HIV. Dr. Weller reports that “since contraceptive research indicates condoms are about 90 percent effective in preventing pregnancy, many people, even physicians, assume condoms prevent HIV transmission with the same degree of effectiveness. However, HIV transmission studies do not show this to be true. .” Dr. Weller continues, saying “new data indicate come condoms, even latex ones, may leak HIV.”

Yang saya catat, komentar tersebut menyatakan ketidakefektifan kondom bukan karena masalah pori-pori. Lama saya mencari ulasan tentang pori-pori kondom, tapi tetap satu-satunya rujukan hanya dari tulisan CM Roland tersebut.

Harus kita pahami, bahwa kondom terbuat dari beberapa jenis bahan. Bila bahan yang dimaksud adalah bahan natural yakni dari lambskin atau usus domba memang memiliki pori-pori. Namun pori-porinya yang kecil tetap cukup efektif tidak bisa dilalui oleh sperma. Sehingga kondom jenis ini efektif sebagai alat kontrasepsi, namun tidak efektif untuk mencegah penularan penyakit menular seksual seperti HIV-AIDS. Jenis kedua yang lebih popular adalah jenis latex. Latex ini, berdasarkan klaim dari produsennya tidak memiliki pori dan melalui uji dari FDA untuk menyaring kualitasnya. Jenis ketiga, yakni dari  polyurethane. Jenis ini tidak terlalu jauh berbeda dengan latex. Namun kurang populer, mengingat beberapa kelemahannya yakni kurang elastis, lebih mudah robek dan lebih mahal.

Lalu, seberapa efektifkah kondom jenis latex dalam mencegah penularan HIV? Ada banyak jawaban yang saya temukan.

Elizabeth J. Shaw & Barbara A. Rienzo dalam artikel Permeability of Latex Condoms: Do Latex Condoms Prevent HIV Transmission? yang dimuat di Journal of Health Education Volume 26Issue 6, 1995 menyebutkan:

HIV is not very efficient in passing through a hole more than twice its size; two, studies assessing condom permeability to HIV demonstrate that it does not pass through a latex condom; three, studies involving surrogates for HIV show that these agents, equal to or less than the size of HIV, can leak through a latex condom. However, this leakage is infrequent and occurs in minute amounts. Finally, the methods utilized by manufacturers and the Food and Drug Administration to maintain a high level of condom quality may not be sensitive enough to detect the tiniest pores in latex condoms that may be large enough to allow HIV to pass through. It is evident, however, that any existing pores rarely allow an HIV surrogate to leak and do not allow HIV to permeate. Therefore, condoms, although possibly not 100 percent effective, even if used correctly and consistently, can greatly reduce the risk of HIV transmission.

Sementara dalam Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission (Review) oleh

Weller SC, Davis-Beaty K yang dipublikasikan Cochrane Database of Systematic Reviews 2002, Issue 1. Disebutkan

This review indicates that consistent use of condoms results in 80% reduction in HIV incidence. Consistent use is defined as usinga condom for all acts of penetrative vaginal intercourse. Because the studies used in this review did not report on the “correctness” of use, namely whether condoms were used correctly and perfectly for each and every act of intercourse, effectiveness and not efficacy is estimated. Also, this estimate refers in general to the male condom and not specifically to the latex condom, since studies also tended not to specify the type of condom that was used. Thus, condom effectiveness is similar to, although lower than, that for contraception.

Kita masih akan menemui banyak sekali penelitian yang menunjukkan bahwa kondom cukup memiliki efektivitas dalam mencegah penularan virus HIV. Tentu saja tidak 100% efektif. Kondom memiliki kemungkinan bocor atau robek (tapi bukan karena pori) sebagaimana yang dilansir oleh banyak penelitian seperti  penelitian Nwasu dan kawan-kawan “A Water Leak Hang Test on a Random Sample of

Condoms in Nnewi, South-East Nigeria dipublikasikan di Greener Journal of Medical Sciences Vol. 2 (6), pp. 130-133, November 2012 yang mengungkapkan angka kebocoran kondom latex yang mereka teliti mencapai 5%.

Di samping itu, diungkap dari berbagai penelitian tentang inkonsistensi dalam pemakaian kondom, kesalahan penggunaan merupakan sebab kegagalan pencegahan HIV melalui kondom di Negara-negara subsahara, Afrika. Sehingga, disimpulkan dari riset, bahwa justru kondom tidak efektif dalam pencegahan penularan HIV. Langkah yang tepat yang berhasil menekan laju penularan HIV adalah perubahan perilaku seksual. (Hearst NChen S. Condom promotion for AIDS prevention in the developing world: is it working? Stud Fam Plann. 2004 Mar;35(1):39-47.)

Dari penuturan panjang di atas. Setidaknya saya ingin menghimbau agar dakwah kita lebih cerdas. Bukan berarti karena demi kepentingan dakwah, kita asal comot dalam membuat pernyataan kan?

Jadi simpulannya bila bicara kondom, stop cerita tentang mitos kondom berpori.

Kalau saya, cukup katakan begini:

“Kondom adalah salah satu alat kesehatan yang mungkin bisa mencegah penularan virus HIV. Tapi dia tidak akan bisa mencegah pelaku yang menggunakannya untuk zina dari adzab neraka”

LEAVE A REPLY