AIDS, ODHA dan Liberalisme Budaya

0
703

Oleh: Aulia Yahya, Apt (Anggota HELP-S)

HIV berarti Human Immunodeficiency Virus. HIV hanya menular pada manusia. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh yang melindungi tubuh terhadap infeksi. Kebanyakan orang yang terinfeksi HIV tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi. Segera setelah terinfeksi, beberapa orang mengalami gejala yang mirip gejala flu selama beberapa minggu. Selain itu tidak ada tanda infeksi HIV. Tetapi, virus tetap ada di tubuh dan dapat menularkan orang lain.
Sedangkan AIDS berarti Acquired Immune Deficiency Syndrome. Mendapatkan infeksi HIV menyebabkan sistem kekebalan akan semakin lemah. Keadaan ini akan membuat orang mudah diserang beberapa jenis penyakit (sindrom) yang kemungkinan tidak mempengaruhi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Penyakit tersebut disebut sebagai infeksi oportunistik.
Penyakit yang tidak memandang umur, lapisan masyarakat dan gender ini sudah menjadi hal utama yang harus diberikan kepedulian ekstra.

Jumlah Penderita

Secara global, 40 juta orang saat ini terinfeksi HIV AIDS, dimana 37 juta dan 2,5 juta adalah dewasa dan anak-anak (di bawah 15 tahun).

Di Indonesia sendiri, jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan September 2014 sebanyak 150.296. Sedangkan untuk kasus AIDS jumlah kumulatif sampai dengan September 2014 sebanyak 55.799 orang, dengan persentase tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (32,9%), kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (28,5%), 40-49 tahun (10,7%), 50-59 tahun (3,4%), dan 15-19 (3,1%).

Tidak Sebatas Hari Peringatan. LAWAN

Tanggal 1 Desember ditetapkan menjadi Hari AIDS Sedunia. Tahun ini, tema yang diusung adalah “”DUKUNG ODHA MANDIRI””. Sejumlah program disusun, berharap Indonesia zero AIDS 2030, sebagaimana tertuang dalam salah satu hasil dari PerNas (Pertemuan Nasional) AIDS 5 di Makassar 27 – 29 Oktober 2015 lalu .

Diharapkan dengan adanya Hari AIDS Sedunia, masyarakat lebih bisa peduli akan bahaya AIDS dan mengetahui bagaimana penanggulangan dan juga pencegahan penyakit ini. Berbagai upaya sudah dilakukan dari berbagai sektor, baik dari Lembaga pemerintah, LSM, Swasta maupun kelompok masyarakat peduli AIDS.

Terlepas dari peringatan hari AIDS sedunia yang orang-orang pun berlainan cara untuk memperingatinya, jelasnya bahwa AIDS merupakan salah satu fenomena yang telah mendunia. Penyakit ini menyerang siapa saja, tidak pandang bulu. Semuanya bisa terserang penyakit membahayakan ini. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang memiliki stoke orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terbesar.

Hal yang paling real untuk melakukan perlawanan terhadap penyebaran HIV AIDS adalah dengan cara menghindari pergaulan bebas. Walaupun bukan sebagai satu-satunya sumber, Seks bebas tetaplah merupakan faktor yang cukup dominan dibandingkan dengan penularan melalui jarum suntik (kesalahan medis, juga pemakaian narkoba), melalui keturunan (penurunan gen dari ibu yang mengidap AIDS ke anak yang dilahirkannya).

Sekedar mengamati, telah terjadi pergeseran nilai di dalam tatanan kehidupan sosial-budaya kita. negara Indonesia yang dulunya terkenal agamis dan memiliki nilai-nilai budaya yang luhur kini musnah sudah dihantam badai globalisasi yang membawa arus informasi dan budaya barat yang jauh dari tatanan nlai-nilai ketuhanan. Semuanya atas nama modernitas, serbuan media yang sudah terlanjur dibuka krannya ternyata memberi dampak negatif tersendiri. Pop Culturemasuk ke negeri ini tanpa sensor atau filter moral. Parahnya, serbuan ini tak terbendung dan menjadikan kalangan tua semakin permissive menerimanya bahkan ikut-ikutan menerimanya. Salah satunya seks bebas sudah menjadi bagian tak terpisah dari Pop Culture yang sudah menjadi kecendrungan budaya di Indonesia.

Peran Penting Ajaran Agama

Sejatinya, dengan mengamalkan ajaran agama diharapkan mampu menjadi benteng moral bagi setiap pribadi. Namun sangat disayangkan sakralitas agama mengalami dekonstruksi yang luar biasa dahsyatnya. Liberalisme yang merasuk ke segala aspek kehidupan menjadi salah satu katalis bahkan dianggap sebagai biang desakralisasi agama dalam kehidupan. Hal ini disadari atau tidak, berimplikasi pada kehidupan beragama yang kian hari kian luntur. Agama mulai ditinggalkan, bisa jadi hanya tinggal prosesi budaya kering makna. Masyarakat akan kembali pada agama manakala terjadi prosesi kelahiran, khitanan, pernikahan, terakhir ditimpa kematian. Agama hanya menjadi simbol budaya tapi tidak perilaku keseharian. Beragama minus Tuhan di dalamnya.

Tarulah sebagai contoh perilaku agama yang ditinggalkan. Tentang larangan untuk berlaku zina dan sistem pergaulan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Toh kini peringatan tabu dari Allah tersebut kini dilabrak dengan budaya pergaulan bebas yang di import dan ditelan bulat-bulat dari budaya dan peradaban jahiliyah modern (barat).

Masalah HIV/AIDS boleh jadi lebih tepat disebut sebagai cobaan, ujian yang buruk atau peringatan keras Allah kepada manusia. Terhadap cobaan buruk ini Allah memperingatkan agar semua orang waspada dan berhati-hati, serta menghindari perbuatannya. Al-Qur’ân menyatakan: “Berhati-hati dan jagalah diri kamu dari sebuah “fitnah” (cobaan buruk) yang tidak hanya menimpa mereka yang melakukan kezaliman (penyimpangan)”. ( Q.S. al-‘Anfâl [8]:25).

Ini merupakan perintah Allah untuk pencegahan dari semua perbuatan yang buruk yang diarahkan terhadap semua orang yang berada dalam lingkungan sosial yang buruk. Jika persoalan HIV/AIDS bukan hanya dipandang sebagai masalah medis dan kesehatan fisikal, melainkan merupakan masalah sikap mental dan gaya hidup, maka pencegahan harus dilakukan melalui perubahan atasnya.

Stop AIDS, Cegah dan Lindungi Diri dengan Nilai-nilai Agama.[]

LEAVE A REPLY