Sinar X dan Dosa-Dosa Kita

0
822

Oleh: dr. Fauzan Muttaqien (Sekjend HELP-S)

Awas bahaya radiasi!

Begitu bunyi peringatan yang tertera di depan ruangan radiologi. Atau bagi yang bekerja di IGD dan ICU mungkin telah akrab dengan peringatan dari petugas foto X ray onsite, “X-ray!” maka seketika perawat dan dokter berlarian berlindung agar tidak terkena paparannya. Bagi yang bekerja di laboratorium kateterisasi juga rela berberat-berat ria menyandang appron guna proteksi dari paparan radiasi yang begitu deras di sana.

“Kenapa sih kita cape-cape nyari perlindungan dari sinar X?” cetus saya suatu kali ke seorang perawat. Kali itu kembali ada pemeriksaan foto thorax onsite di ICU.

“Lha iya dok.. kan bahaya, nanti bisa kena kanker, dan penyakit-penyakit yang lain laah” jawab dia sekenanya. “Dokter ngetes aja ya?”

“Ooh, nggak..” tolak saya.

“Saya cuma lagi mikir aja,”

“Bukannya kita tidak pernah melihat bentuk dari sinar X tersebut. Kok kita begitu takut?” tanya saya lagi

“Tapi efeknya jelas kelihatan dok. Teman saya ada yang sering kena paparan sinar X, sekarang kena kanker lho”

Saya mengernyitkan dahi..

“Mas… kadang kita tak adil ya. Kita buru-buru menghindar ketika ada sinar X kaya gini. Takut kenapa kenapa. Padahal bentuknya saja tidak jelas, yang kita lihat hanya efeknya.”

“Terus bagaimana dengan paparan dosa yang begitu banyak menghampiri kita setiap harinya? Bahaya zina mata, bahaya terpapar mendengar ghibah, ngobrol maksiat… kenapa kita tidak merasa perlu berlari berlindung untuk menghindarinya?” tanya saya retoris.

Si mas perawat hanya mengangguk-angguk.

“Padahal efeknya sangat jelas mas, dosa itu akan menggerogoti iman kita, mengkaratkan hati kita… dan na’udzubillah.. di akhirat nanti menjadi pemantik jilatan api neraka bila kita tak kunjung bertaubat” lanjut saya.

“Terus maksudnya gimana dok? Jadi harusnya kalau ada maksiat di depan kita juga harusnya ada yang teriak-teriak ‘dosa!” terus kita cepat-cepat kabur gitu?” sela dia sambil tersenyum terkekeh.

“Tepat! Harusnya ada sinyal seperti itu. Mengingat betapa bahayanya yang namanya paparan dosa tersebut. Dan sinyal itu harusnya berbunyi dari dua tempat mas. Dari dalam diri kita yang berasal dari ketaqwaan sehingga diri kita merasa tidak nyaman ketika ada pajanan dosa. Yang kedua, dari saudara seiman kita, alarm ini bernama amar makruf nahi munkar” jelas saya.

“Hmm, sayangnya sekarang dua-duanya lebih banyak nggak bunyi…. Akibatnya kita nyantai aja tatkala mandi radiasi dosa…” pungkas saya seraya berlalu.

LEAVE A REPLY