Manusia dan Obat yang Dikonsumsinya

0
187

Oleh : Aulia Yahya, Apt (Anggota HELP-S)

(catatan seorang apoteker di Hari Kesehatan Nasional 12 November)

Pada satu kesempatan, seorang kolega mengirimkan pertanyaan melalui pesan singkat “kenapa saya harus mengkonsumsi obat 3 x  1, bukan  2 x 1 saja ?, saya sudah ganti–ganti obat, tapi kenapa belum sembuh juga ?”  

Sambil memahami dan menjawab “pertanyaan sederhana” ini, penulis mencoba mengingat ingat kembali saat  kuliah dasar farmakologi belasan tahun silam, dan khusus untuk pertanyaan pertama  menemukan satu jawaban simpulan , “ agar pengobatan itu rasional !”.

Tata cara pengunaan obat yang baik atau seringkali disebut dengan obat rasional, didefinisikan ketika  pasien menerima pengobatan sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dalam dosis yang sesuai dengan kebutuhan, dalam periode waktu yang sesuai dan dengan biaya yang terjangkau oleh dirinya dan kebanyakan masyarakat.

Dalam hal membaca aturan pakai obat, masyarakat sebagian besar sudah faham bahwa angka pertama (sebelum  tanda x) merupakan frekuensi  pemakaian obat dalam sehari, dan angka kedua (sesudah tanda x) adalah jumlah takaran/dosis pemakaian (butir, sendok, bungkus dll). Namun lebih lanjut, ternyata masih banyak yang mengartikan mengkonsumsi obat 3 kali sehari seperti layaknya jadwal makan yang lazim yakni pagi, siang dan malam (3 kali dalam 12 jam). Akibat pemahaman keliru inilah, terkadang  dalam beberapa kasus, waktu malam sampai pagi si pasien tidak minum obat lagi.

Berdasarkan teori, sejatinya aturan pakai suatu  obat tergantung dari sifat kimia dan karakter obat itu saat berada di dalam tubuh. Ada yang mudah tereliminasi oleh tubuh dan ada pula yang mampu lebih lama bertahan hingga habis termanfaatkan. Adapun pengulangan dilakukan dengan jadwal yang disiplin dimaksudkan untuk menjaga kadar obat dalam darah pasien, sehingga terapi obat tetap berlangsung efektif.

Pemahaman yang seharusnya pada “sehari 3 x 1” adalah 3 x dalam 24 jam, diminum setiap 8 jam. Maka bila waktu meminum obat yang pertama pada jam 6 pagi 1 butir/sendok/bungkus, maka waktu yang kedua minum obat pada jam 2 siang 1 butir/sendok/bungkus dan yang ketiga pada jam 10 malam 1 butir/sendok/bungkus.

Begitupun untuk aturan “sehari 2 x 1” maksudnya 2 x dalam 24 jam, diminum setiap 12 jam.  Maka bila waktu meminum obat yang pertama pada jam 6 pagi 1 butir/sendok/bungkus, maka waktu meminum obat yang kedua juga jatuh pada jam 6 sore 1 butir/sendok/bungkus

Tujuan pengobatan yang pada umumnya untuk mencapai suatu pengobatan yang efektif, tentu saja mendorong penggunaan obat harus secara rasional. Penggunaan obar sendiri juga dilandasi oleh beberapa indikator lainnya. Indikator tersebut berupa : Tepat diagnosis, Tepat Pemilihan Obat, Tepat Indikasi, Tepat Pasien, Tepat Dosis, Tepat cara dan lama pemberian, Tepat harga, Tepat Informasi dan Waspada terhadap Efek Samping Obat.

Adapun tugas seorang apoteker adalah memastikan bahwa kualitas hidup pasien setelah proses pengobatan akan meningkat, dengan memperhatikan dua hal; memastikan bahwa terapi yang diberikan sesuai dengan diagnosa yang ada, dan memastikan bahwa biaya terapi yang dikeluarkan pasien sesuai dengan kemampuan pasien tersebut.

Kesembuhan Itu Dari Allah

Untuk  pertanyaan kedua, sebagai seorang muslim, penulis meyakini bahwa obat hanyalah cara menuju kesembuhan.

Pemberian obat, diharapkan dapat mengatasi gangguan fungsi organ dan hubungan-hubungannya, karena dengan gangguan tersebutlah kadang sejumlah penyakit bermula. Upaya pengobatan dalam rangka mengembalikan keadaan organ bekerja optimal dan harmonis, plus menjalankan fungsinya dengan baik, dengan demikian kebugaran dan tingkat kekebalan tubuh bakal meningkat, virus dan bakteri pun tak lagi menyerang.

Urusan kesembuhan itu datangnnya dari Allah. Semujarab apapun obat yang dikonsumsi, namun jika Allah tidak menghendaki kesembuhan, kesembuhan itu juga tidak akan didapat.

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” demikian bunyi hadits riwayat Bukhari. Termasuk Imam Muslim meriwayatkan hadits yang berbunyi “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla”.

Oleh karenanya, pada setiap kesempatan, ketika ada keluarga, sahabat maupun kolega, atau siapapun yang bertanya dan berkonsultasi mengenai obat, penulis selalu mengingatkan agar yang bersangkutan setelah berikhtiar dengan mengkonsumsi obat, tidak lupa memohon kesembuhan kepada Allah, sembari turut mendo’akan yang bersangkutan baik dengan lafadz do’a kesembuhan penyakit yang umum  “Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain”  (HR Bukhari dan Muslim), atau minimal mencukupkan dengan kalimat pendek “semoga Allah memberi kesembuhan !”

Pendekatan Holistik

Secara holistik, manusia tidak hanya punya raga, tapi juga jiwa dan hubungan sosial alam semesta. Peran raga, misalnya berkaitan dengan organ-organ nyata, seperti jantung, pembuluh darah, otak, saraf, hati, alat pencernaan, panca indera, serta kelenjar. Sedangkan komponen jiwa terdiri atas roh, akal, nafsu, hati nurani, dan banyak lagi. Sebagai makhluk sosial, manusia juga selalu berinteraksi dengan lingkungannya.

Seiring perkembangan zaman, dunia kesehatan terus berbenah. Tak hanya tergantung pada obat dan pembedahan / tindakan operasi, kini pengobatan komplementer dan alternatif kerap diperkenalkan. Pengobatan komplementer merupakan upaya untuk melengkapi cara-cara penyembuhan konvensional. Sedangkan alternatif, merujuk pada jenis pengobatan selain konvensional, yang dipilih pasien untuk mengurangi penderitaannya.

Karena menghindari penggunaan obat-obat kimia, pembedahan, dan pengobatan konvensional lainnya, “holistic approach” atau pendekatan holistic lazimnya menawarkan berbagai metode terapi, baik yang langsung ditujukan ke bagian yang sakit maupun tidak.

Selain beralih ke obat-obatan herbal, masyarakat juga mulai familiar dan mencoba Thibbun Nabawi, sebuah metode pengobatan ala Nabi, yang dipopulerkan oleh para dokter dan apoteker muslim sekitar abad ke-13 M. Bekam, ruqyah, habbatussauda / biji jintan hitam, propolis / madu, dll tak jarang menjadi alternatif dalam mengobati penyakit. Bahkan dengan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, hidup bersih, mengkonsumsi makanan sehat, berpuasa, silaturrahim, bersedekah, tahajjud tengah malam, membaca Al Qur’an pun telah terbukti dapat menyehatkan atau menyembuhkan penyakit.

Dua macam pengobatan ini, sepanjang manfaatnya bisa dijelaskan secara ilmiah, masuk ke dalam kategori holistik.

Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya; aman jiwa, jalan dan rumahnya; dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya (HR al-Bukhari dalam Adab al-Mufrâd, Ibn Majah dan Tirmidzi).

Holistik memang beranjak dari empati terhadap diri sendiri. Dengan mengandalkan relaksasi, penghargaan terhadap kekuatan bawah sadar serta eratnya tautan jiwa-raga, insyaAllah tubuh akan sehat, jiwa dan raga [ ].

LEAVE A REPLY